Mengubah Perspektif

ini adalah hari kesekian saya WFH dengan posisi duduk yang nyaris sama dari hari ke hari. rutinitas ini ternyata mendatangkan kejenuhan yang tak saya sadari sudah mengakar dalam benak, menjadi pohon rindang tempat saya berteduh.

saya bukan orang kreatif yang suka mengubah suatu hal, bahkan posisi duduk. perubahan bukan teman baik saya dan karenanya saya terlampau nyaman berada di sudut yang sama terus menerus.

tapi hari ini, tanpa niat khusus, saya mengubah posisi kerja saya saat WFH. sebelumnya saya duduk sembari melihat pemandangan perumahan di sisi barat, kini saya duduk melihat pemandangan perumahan di sisi timur.

tak disangka perubahan yang sederhana ini membangkitkan mood saya dalam bekerja, meretas kejenuhan, menumbuhkan bibit ketenangan baru. sesederhana karena mengubah sudut pandang secara harfiah.

mungkin selama ini saya terperangkap dalam perspektif tunggal yang terus saya siram; terlalu banyak air hingga nyaris busuk. selama ini saya enggan berpindah pijakan karena terlalu nyaman sampai tak menyadari semua bergerak menjadi lamban. zona nyaman yang nyatanya mendatangkan beban pikiran.

ternyata mengubah perspektif itu perlu. tidak selamanya sudut pandang kita merupakan sudut pandang terbaik. mungkin masih ada sejuta perspektif lainnya yang patut kita coba. bisa jadi lebih baik, atau sebaliknya.

tapi kita tidak akan pernah tahu bila tidak mencoba, kan?

Jakarta, sore hari.

semua orang punya salah, maafkanlah.

ada kalanya kita merasa paling benar ketika orang lain melakukan kesalahan. mungkin, sering.

tapi kita lupa, bahwa kita pernah salah. pernah buat orang marah. pernah lupa, pernah buat orang sakit hati. hanya saja kita tidak sadar.

mungkin orang lain maklum, namun ada juga yang tidak.

begitu juga dengan mereka. pernah salah, pernah buat marah. pernah lupa, pernah buat orang sakit hati. dan mereka juga tidak sadar.

mungkin, ada kalanya kita harus maklum. satu atau lebih kurangnya dirimu sama dengan mereka. jadi bisakah kita memulai,

maafkanlah mereka,

maafkanlah dirimu sendiri.

Kehilangan yang Takkan Pernah Hilang

Di, apa kabar?

Sudah setahun berlalu namun tenggorokanku rasanya selalu tercekat setiap mengingat namamu. Banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadamu. Bagaimana keadaan kantor? Apa bosmu masih doyan untuk memberi wejangan sebelum pulang kantor? Kapan terakhir kamu makan di warung Bu Ina? Apa kabar mama dan papa? Dan masih banyak sekali daftar pertanyaan yang nyaris membludak di hatiku.

Di, apa kamu masih sama seperti yang dulu? Seseorang yang selalu semangat menyambut hari, tak berhenti-hentinya bercanda, penuh energi — energi yang cukup besar untuk dapat membuatku yang gampang pemurung jadi ceria seperti sedia kala. Jika masih, beruntunglah orang-orang di sekitarmu karena selalu merasa terhibur setiap di dekatmu.

Sama seperti aku dulu.

Di, jika saja kamu bertanya mengenai kabarku, kini aku merasa jauh lebih baik. Kadang aku masih menangis, namun tidak sesering dulu. Sepertinya aku sudah mulai bisa ikhlas, Di. Siapalah aku yang bisa melawan kuasa Tuhan akan nasib?

Kalimat di atas membantuku untuk bergerak, Di. Setidaknya mataku tak sembab sesering yang dulu. Mulai bisa tertawa lebih sering. Mulai menata hati kembali.

Tapi Di, setiap aku ingat kamu, ingat kenangan kita, ingat bagaimana rasanya menjalani bahagia di atas kata perih, dadaku rasanya sesak, Di. Rasa macam apa ini, Di? Aku pikir aku sudah bergerak jauh. Namun setiap kuingat kamu, rasanya aku seperti melangkah dari awal lagi.

Sejujurnya, Di, kini ada seseorang yang selalu memperhatikanku. Siapa lagi kalau bukan Mas Aska. Dia selalu berusaha menjagaku, di kantor maupun di luar kantor. Rajin menanyakan kabar, rajin juga mengajakku pergi. Dia selalu berusaha membuatku tertawa, Di. Diajaknya aku ke berbagai tempat yang menyenangkan.

Mungkin saja Mas Aska menyukaiku, Di. Tapi belum pernah berkata mengenai hal yang menjurus. Aku merasa dia tahu aku ragu. Dia tahu aku masih belum sepenuhnya melepas masa lalu. Tapi dia tidak pernah mendesak, tidak pernah memaksa aku bercerita. Mas Aska melakukan hal yang terbaik yang dia bisa lakukan. Mas Aska sabar menghadapiku ketika tiba-tiba suasana hatiku berubah.

Seperti kemarin, Di. Diajaknya aku kuliner malam di seputar Blok M. Bagaimana aku tidak terdiam jika setiap kakiku melangkah, kenanganku denganmu selalu muncul di kepala? Di sudut jalan itu kita kerap makan bersama, makan murah meriah ujarmu. Sambil tertawa lalu mengobrol sebisanya sebelum dipelototi oleh pelanggan lain yang tengah mengantre tempat.

Lalu air mataku menetes begitu saja. Sebelum sempat aku mengusapnya, Mas Aska sudah sigap menghapus air mataku dengan tangannya. Kalau di sini membuat kamu sedih, ujarnya lembut, kita ke tempat lain saja, ya? Aku hanya bisa mengangguk lalu mengikutinya.

Setengah berkelakar, dulu kamu berujar aku pasti bahagia dengan Mas Aska. Kamu berkata bahwa Mas Aska adalah orang yang tepat untuk mendampingiku, jika tidak bersama kamu. Mungkin itu benar, Di. Karena kini ketika bersama Mas Aska, hatiku memang menjadi lebih tenang.

Bukankah harusnya aku sudah bisa bahagia, Di? Tapi nyatanya rasa sesak itu mudah sekali datang dan pergi tiap namamu melintas di benakku.

Apa mungkin rasa kehilangan itu tidak akan pernah hilang, Di? Seberapa jauh pun kita melangkah, berpaling, bahkan bahagia bersama orang lain, kehilangan itu takkan pernah mampu terisikan oleh siapapun.

Di, apakah kamu juga merasakan hal yang sama?

Di, apa ini benar-benar saatnya untuk memulai lembar baru?

well, what happened?

malam ini, saya merasakan urgensi untuk menulis apa yang saya rasakan di blog ini. rasa untuk diingat, dikenang, dan dipelajari dalam lembar-lembar baru berikutnya. agar tak lupa bahwa saya lemah sewajarnya manusia biasa, agar saya lebih ikhlas dan siap dalam menjalani hari-hari baru.

beberapa bulan terakhir ini, saya merasa kewalahan. bukan karena kerjaan yang terlalu banyak atau susah. saya merasa capek mengerjakan hal-hal yang biasanya saya kerjakan. hal-hal yang harusnya bisa saya sikapi dengan dewasa, kok jadi mudah memancing emosi. hal yang harusnya bisa dikerjakan dalam sekejap, kok menjadi lama. ada rasa enggan, ada juga perasaan tak mampu. boro-boro memikirkan ide inovatif, mental saya untuk bertahan dari jam 8 sampai jam 5 di hari kerja rasanya nyaris terkuras.

entah apa yang terjadi pada diri saya. dalam beberapa keadaan, saya merasa lemah lantas tak punya partner berbagi. kalau dulu ada yang biasa diajak berdiskusi, kini semua keputusan kebanyakan harus diambil sendiri. hal ini ternyata cukup berat bagi saya yang sangat banyak pertimbangan dalam mengambil keputusan, bahkan dalam pemilihan satu kata yang tidak begitu signifikan. yap, saya harus mengakui bahwa tak jarang saya menghabiskan energi di tempat yang salah.

saya tahu persis, saya tidak boleh membandingkan diri dengan orang lain. semua orang punya jalan dan sejarah masing-masing, jadi membandingkan diri dengan mereka hanya akan membuat frustasi, jika kita tidak pandai dalam mengambil apa yang harusnya dipelajari. tapi, belakangan ini saya tak tahan. saya selalu merasa bahwa A, B, dan C selalu berupaya semaksimal mungkin dalam bekerja. itu yang tampak di mata saya. mereka selalu semangat bekerja, terlepas apapun keadaannya. lalu mengapa saya tak bisa? pertanyaan itu hinggap di kepala saya sampai hari ini.

seorang stand up comedian pernah berkata, jangan bandingkan diri kamu dengan orang lain, tapi bandingkan dengan dirimu di masa lalu. berhentilah saya membandingkan diri dengan orang lain, lalu saya membandingkan diri saya kini dengan diri di masa lalu. hasilnya? saya semakin menyadari bahwa jalan saya semakin menyimpang dari apa yang saya lakukan beberapa waktu lalu. saya masih ingat saya yang dulu; semangat untuk berangkat ke kantor, masih bisa tertawa lepas sambil mengerjakan kerjaan yang mepet deadline, atau rela lembur demi tugas. sekarang? saya berusaha semaksimal mungkin untuk tidak fokus pada kerjaan setelah jam lima sore. saya ubah pola kerja saya menjadi 8-5 setiap hari. dan tak jarang 8 jam itu kurang untuk membereskan kerjaan. tapi, nyatanya saya tidak memilih untuk lembur, lebih baik kerjaan yang belum usai dikerjakan keesokan harinya.

kalau kamu membaca ini, sebagian mungkin akan berkata bahwa justru hal inilah yang benar. seharusnya kita memiliki waktu luang di luar jam kerja. tapi jauh di dalam lubuk hati saya merasa bersalah. mungkin karena sebenarnya saya juga belum maksimal dengan metode kerja jam 8-5. mungkin seharusnya tak apa sedikit lembur tapi deadline pun terpenuhi. seharusnya, seharusnya, seharusnya. sejumlah seharusnya hadir saat saya hendak tidur, tapi saya tak punya kuasa untuk melakukan apa yang kata otak saya seharusnya dilakukan.

kemudian saya berpikir apakah pola work from home ini sejatinya tidak cocok bagi saya? logika saya berkata bahwa saya harus bisa menikmati kemewahan bisa bekerja dari rumah. tapi mungkin jiwa saya yang sesungguhnya jauh lebih bisa terpompa ketika bertemu orang di kantor, bekerja bersama dalam suatu ruangan, atau sekedar menoleh kanan kiri untuk ngobrol sambil bekerja.

saya tidak tahu apa istilah yang tepat untuk menggambarkan keadaan saya ini. burnout, jenuh, prokrastinasi?

entah…

apakah hal yang saya rasakan wajar? salahkan saya merasa seperti ini? apa yang lain pernah mengalami apa yang saya alami?

pada akhirnya saya merasa sedikit lebih lega bisa bercerita di sini. dan jika saja tulisan ini suatu saat terbaca oleh kalian yang seharusnya membaca,

I just wanna say sorry for not being the best version of me for the past few months. well, until tonight, actually. I really hope I can find the old me, very soon.

this too shall pass.

cheers.

ps: maaf kalau tulisan ini terasa berantakan. I just want to say many things in my mind abruptly.

bunga palsu

beberapa masa terakhir ini, aku gemar bertanam. aku membeli bibitnya dari penjual kebohongan, lalu menanamnya di tanah yang penuh kepalsuan. menyiraminya dengan doa yang sumbang, setengah sabar menunggunya berbunga.

lalu ia berbunga, menjadi segenggam harapan palsu. sari bunganya mengandung kekecewaan, dan kelopaknya diwarnai air mata. aku senang karena lebah pun enggan mendekati. menjelang layu, kupetik ia dan kuletakkan di vas yang sudah retak.

baru semalam ia berdiam, baunya sudah tak sedap. penolakan dari dalam tangkainya seakan memberontak ingin melepaskan diri, meracuni seisi ruangan. kelopaknya berguguran, jangan tanya daunnya yang seperti terbakar, hitam kering tak bernyawa. aku membersihkan vasnya dengan mengutuk, tak akan lagi menanam bunga palsu.

tak seminggu berselang, kudapat diriku di depan penjual kebohongan, dan mengulangi prosesnya. memupuk rasa keputusasaan yang tak kunjung hilang, menambah sampah kepalsuan di sudut pekarangan.

ah, manusia kalau tak lupa, memang suka menyakiti diri sendiri. lagi dan lagi.

duka

dua hari terakhir ini, rasanya tak karuan. melihat orang terdekat berduka dan tak tahu harus berbuat apa. tak bisa datang memeluk atau sekedar menenangkan di sampingnya. tak bisa hadir mengantar orang tercinta mereka ke peristirahatan terakhir. jalan satu-satunya adalah memberi doa dan kalimat penyemangat lewat chat, ya hanya lewat chat.

sungguh pedih rasanya menjadi tak berdaya, sekedar untuk menyapa pun tak bisa. getir rasanya melihat mereka berusaha tegar dan ikhlas yang pasti tidak pernah mudah. kepergian ini datang terlalu tiba-tiba dan menghancurkan rasa.

menjalani hari-hari belakangan ini memang tak mudah. garis batas antara asa dan putus asa nyaris tak terlihat. berita duka datang silih berganti; sebuah keadaan yang tak wajar dan tak pernah terbayangkan. sebagai manusia yang mendewasa, kita diminta bertahan sekuatnya, melanjutkan hidup di antara banyak yang hal berguguran.

di saat seperti ini, lingkungan terdekat adalah tiang untuk bersandar. dan akhirnya, kita yang masih diberi kesempatan pun dikuatkan dan saling menguatkan.

hang in there, love(s). this too shall pass..

3×4

kaki kita bersilangan di atas dipan kayu yang dingin. tanpa dendam sedikitpun kepada langit yang bocor dan membasahi kasur busa.

dengan aku yang mencoba meraba teks proklamasi ketika tengah membaca buku puisi. dan kamu yang bertanya-tanya dengan bahagia: untuk apa pegawai macam kita ikut sertifikasi?

katamu, senang punya istri yang suka menulis. aku hanya mencibir karena sungguh pasti aku bukan orang pertama yang kamu beri gombal puisi.

tawa kita pun meluluhkan dinginnya suhu ruangan.

memang, hati kita bahagia tanpa berusaha terlalu banyak. dalam ruangan sempit dan banyak cela ini, cinta kita tumbuh melalui kata-kata,

tersambung dalam kalimat yang tak lekang oleh waktu.