rindu akan sendu

sudah lama sekali saya tidak menulis. terlalu banyak hari-hari yang menyita perhatian, menguras emosi, dan kadang membuat saya terasing. menulis tiba-tiba menjadi suatu hal yang enggan untuk dilakukan. rasanya malas. menulis yang tidak dari hati tak akan menghasilkan tulisan yang baik, kan?

tapi malam ini, saya rindu. terhadap sesuatu yang beraroma sendu. saya ingin kembali menulis, mengguratkan hal-hal yang membuat saya berpikir dan merenung. saya kangen membaca blog-blog yang terkesan galau dan gelap. mungkin ini alasan saya sebenarnya suka membaca blog pribadi orang-orang. tulisan mereka adalah tulisan dari hati, tanpa kepentingan komersial. bisa fiksi, bisa jadi nyata. saya memposisikan diri saya sebagai diri penulis. saya menyelami kesedihan yang ia bagi. setelah itu saya akan mellow sendiri. namun itu menjadi pengingat bagi saya untuk lebih menghargai apa yang saya miliki. karena sebagian besar, tulisan yang sedih menceritakan akan kehilangan atau perpisahan. tulisan sendu itu mengingatkan saya untuk bersyukur akan apa yang saya miliki, dan semakin mencintai apa yang selama ini dicinta.

saya suka menulis, walaupun saya belum bisa menghasilkan tulisan yang baik. tapi dengan menulis, saya belajar mempertahankan rasa. sentimentil yang membuat saya lebih menghargai keadaan. rindu yang saya terus pupuk agar hari lebih terasa berdegup. sederhana saja, menulis membuat saya kembali ke titik nol di tengah hiruk pikuknya kehidupan.

sampai jumpa segera, sendu. dalam barisan kata dan luapan rasa.

Advertisements

hai, kamu

terimakasih telah menjadi tempatku berlabuh,
mengikat harapan dan menguntai rantai kehidupan,
menjalani hari indah yang tak terbayangkan sebelumnya.

sesederhana itu hariku bersamamu,
sebahagia itu hatiku bersamamu.

terimakasih, terimakasih..
semua menjadi tak mengapa,
selama kamu masih di sini.

terimakasih, semesta

pada bulan April 2017 lalu, saya menulis sebuah sajak yang terinspirasi dari seseorang. sosok yang sebenarnya tidak saya kenal. hanya tahu nama, bahkan tidak ingat jika pernah bertegur sapa secara langsung. saya hanya mengenalnya sebagai seorang senior di kampus. selebihnya, kami hanya menjalin pertemanan di media sosial. sampai pada akhirnya kami saling mem-follow akun Instagram masing-masing, dan bulan April itu, saya iseng membuka profilnya.

rasanya orang ini menarik, pikir saya. ada rasa untuk bisa mengenal dirinya. tapi ya siapa saya, ngobrol dengannya saja bahkan tidak pernah. lalu saya terinspirasi untuk menuliskannya di blog. saya mencoba membayangkan bagaimana sosoknya, dari rentetan foto dan caption di feed-nya. saya tuliskan rangkaian kata-kata yang menyiratkan bahwa karakter dan dunia saya dan dia (mungkin sebenarnya) tak jauh berbeda. tak lupa saya tuliskan doa semoga semesta bisa mempertemukan kami.

sama

sungguh, ini tulisan dengan no hard feeling. yang penting, saya sudah menuangkan pemikiran saya ke dalam tulisan. sesederhana itu. ternyata semesta mengabulkan doa saya dalam tulisan tersebut. delapan bulan kemudian, dia menjadi orang yang sangat berarti di hidup saya.

saya memang pernah sekelebat membayangkan jika saya bisa berkenalan dengan dirinya. tapi saya juga tidak berpikir bahwa khayalan iseng itu akan menjadi nyata. sungguh, rasanya terharu kalau diingat-ingat. kok bisa. Tuhan menunjukkan jalan yang luar biasa menurut saya. kadang masih terasa ajaib.

tiba-tiba saja, kami bisa mengobrol panjang melalui direct message Instagram. di tengah krisis kepercayaan saya terhadap hubungan yang berawal dari media sosial, percakapan saya dan dirinya justru terasa hangat, tulus, dan menyenangkan. topik yang kami bicarakan juga bukan basa basi. bukan tentang cerita sehari-hari saja, kami juga membahas pandangan hidup, isu sosial, dan hal-hal menarik di sekitar kami. entah kenapa, saya bisa ngobrol hal sedalam itu dengan seseorang yang baru saya kenal. saya bercerita, dia memberikan komentar. begitu pun sebaliknya. kami tidak hanya sebatas saling mendengarkan dan mengiyakan. kami berdiskusi! hal yang jarang saya lakukan dengan orang baru melalui telepon. tanpa tatap muka, karena waktu itu kami tinggal di kota yang berbeda.

seminggu sebelum obrolan panjang itu dimulai, dia bukan siapa-siapa di hidup saya. sungguh, bukan siapa-siapa. kami menjalani kehidupan masing-masing yang tak bersinggungan. lalu semuanya berjalan begitu saja. kami mengobrol panjang selama seminggu, lalu memutuskan untuk bertemu. iya, cuma seminggu and I trust him wholeheartedly to pick me up and spent the whole day with him. just one day, and here we are..

kepercayaan itu kami rawat selama masih LDR, hingga sudah sedekat ini. and this feels so good, when you trust someone at the very beginning and he is really the right one to be trusted.

ketika sudah bersama, saya katakan padanya bahwa tulisan berjudul ‘Sama’ ini terinspirasi olehnya. dia setengah tidak percaya. dia pernah membaca tulisan ini sebelumnya, namun tidak menyangka bahwa sosok yang saya maksud adalah dirinya. saya meyakinkannya bahwa saya sedang tidak membual. saya katakan padanya bahwa saya menulisnya dari hati, meskipun tanpa mimpi tinggi.

cerita itu kini terwujud nyata. saya bukan hanya sekedar berkenalan dengannya, tetapi kami menjalin hubungan yang sangat-sangat istimewa. ia mendekati sosok yang pernah saya bayangkan, nyaris sepenuhnya.

“begitu banyaknya persamaan hal yang kita sukai. hal-hal kecil yang menyenangkan dan membuat hidup lebih berwarna. yang kurasa ketika disatukan, akan merangkai hari-hari yang nyaris sempurna.”

dan begitulah kami, sampai hari ini. merangkai hari-hari yang nyaris sempurna..

menulis dengan hati pun akan diterima dengan hati, imbuhnya. ah, mungkin ini benar adanya.

saya mempelajari satu hal penting. kita tidak pernah tahu kemana semesta akan membawa kita. ia bisa mengantarkan kita kepada hal yang sama sekali tidak disangka. jadi, jika menginginkan sesuatu, bergeraklah. sedikit demi sedikit. lakukan yang terbaik, lakukan sepenuh hati. dan percayalah, ketika kita bergerak, ada suatu titik di bagian semesta lain yang juga bergerak. menggiring langkah kita kepada hal baik yang kita tuju, atau bahkan jauh lebih baik dari apa yang kita pernah pikirkan.

terimakasih semesta. engkau baik sekali terhadap kami.

karena kita harus bahagia

seperti janji kita dahulu. bahwa kita harus tetap berbahagia. walau tidak bisa kita nikmati bersama.

bahagia yang akan terus kita cari. bahagia yang akan kita jaga. untuk menghargai apa yang pernah terjadi. bahwa ada aku, yang mengantarkanmu pada gerbang kebahagiaan. bahwa ada kamu, yang mengantarkanku menjadi seseorang di hari ini.

semesta pasti punya rencana yang lebih baik daripada kita untuk bersama.
jauh dari apa yang pernah kita susun. jauh dari apa yang pernah kita impikan.

terimakasih atas bahagianya.

peluklah hari-hari penuh cita itu dengan erat.
selamat berbahagia, ya.

kelak, suatu hari nanti

kelak kau akan tahu bahwa nyanyian yang mengantarmu lelap ke dalam mimpi adalah doa-doaku. yang terbawa angin rindu, lalu berbisik di telingamu. merdu, dan terlantun pelan.

kelak kau akan tahu mentari yang menyinarimu adalah kasihku padamu. yang tak pernah lelah untuk bersinar, tak peduli kau memilih untuk berteduh atau menikmatinya dalam terik.

kelak kau akan tahu tetesan hujan yang membasahi ragamu adalah tangisku yang tak terbendung. kala waktu tak berpihak untuk mempertemukanku denganmu. saat rindu yang bermula manis justru menjadi rasa yang menyakiti.

kelak kau akan tahu bahwa pernah ada seseorang yang mencintaimu setulus hati. seseorang yang akhirnya melebur dengan semesta, agar selalu bisa dekat denganmu. memujamu dalam rupa-rupa. abadi. sampai masamu habis di muka bumi ini.

kelak,
suatu hari nanti.

memilih pilihan

memilih itu sulit. utamanya ketika dihadapkan oleh banyak pilihan, banyak kemungkinan.

belum lagi terpikir akan mengecewakan pihak yang tidak terpilih. tapi seperti yang orang bilang, kita tidak bisa menyenangkan semua orang, kan?

lalu kenapa kita sulit untuk memilih?

apa sebenarnya kita yang tak bisa tegas dengan diri sendiri? menguatkan diri bahwa apa yang kita pilih adalah hal terbaik, dan semua akan baik-baik saja nantinya.

hidup itu pilihan, kan?

sebagai pihak yang memilih, kita bisa berpegang pada prinsip di atas. tapi sebagai mereka yang tidak terpilih, mungkin prinsip itu terasa menyakitkan.

apa kita harus memilih?
apa memilih untuk tidak memilih adalah pilihan yang akhirnya bisa dipilih?