lakukan hal yang baik

lakukan hal yang baik, ujarnya. sebanyak mungkin. sesering mungkin. meskipun dunia menjadi gila, dan orang-orang di sekitar menjadi bertindak tanpa arah.

lakukanlah hal yang baik, meskipun sulit. kadang isi hati tak sanggup menahan rasa sakit. tidak apa, pelan-pelan. kalau memang harus menangis, ya menangis saja. bukan hidup namanya jika temanmu hanya bahagia.

sampai kapan? aku bertanya.

sampai waktumu habis di muka bumi ini, jawabnya. jangan pernah sekalipun berhenti untuk berbuat baik. tanpa kau sadari, langkahmu akan menjadi lebih ringan karena mempercayai isi hati. mulailah menjadi baik untuk diri sendiri. dan selanjutnya, beruntunglah dirimu jika bisa menebar kebaikan kepada orang-orang di sekelilingmu.

Advertisements

waktu berdua

quality time saya dengan orang tua belakangan malah mengambil setting di mobil. quality time yang saya maksud di sini adalah obrolan yang cukup serius di anatra anak dan orang tua. kalau di rumah, kami lebih cenderung menghabiskan waktu kami untuk bersantai dan beristirahat. menonton televisi bersama, sambil berbincang ringan.

nasehat-nasehat orang tua mengalir sepanjang kami menikmati perjalanan. entah itu perjalanan dari bandara ke rumah, atau dari mana dan ke mana saja. asalkan kami cuma berdua. momen ini biasanya terjadi di antara saya dan mama. sambil mengemudi (mama jarang sekali mau disetirin, entah nggak percaya atau merasa masih bisa nyetir kenapa harus disetirin), mama akan menanyakan hal-hal tentang kerjaan dan tahap-tahap kehidupan selanjutnya.

mama bertanya, dan saya menjawab. terkadang jawaban saya tidak sesuai dengan prinsip mama dan mama akan memberi nasehat, yang sesungguhnya sudah berulang kali dilontarkan. kalau dulu waktu sebelum kerja, mungkin saya terbiasa membantah. namun di usia sekarang, saya lebih banyak diamnya. nasehat mama memang selalu ada benarnya, dan saya di masa remaja adalah saya yang cenderung masih tidak terima jika ada sesuatu dalam hidup saya yang perlu dikoreksi. sekarang, saya bersyukur mama masih bisa memberikan saya nasehat. selayaknya apa yang saya dapatkan sebagai anak dan kewajiban mama sebagai orang tua. dengarkan saja dulu nasehat orang tua, itu pikir saya. jika ada yang dirasa berbeda dengan isi kepala, wajar saja karena zaman susah orang tua berbeda dengan jaman susah kita di waktu sekarang. perjuangan mereka jauh lebih berat, teknologi dulu belum secanggih di zaman sekarang, dan bagaimana kita belajar, bertumbuh, dan berkembang, lebih overwhelming daripada apa yang mereka alami.

saya menikmati sekali waktu berdua dengan orang tua saya. orang tua saya bukan tipikal orang tua yang rajin tanya kabar anaknya, sekalipun sudah punya gadget masing-masing. sejak merantau, saya dan adik saya diberi kepercayaan untuk hidup sendiri, melakukan apa yang pantas untuk diri kami, yang diiringi dengan tanggung jawab. tapi ketika kami berkumpul, saya dan adik saya akan memberi update informasi tentang hidup kami masing-masing. cukup itu. saya percaya hubungan kami lebih dari sekedar kata-kata dan pertanyaan melalui teks. hati kami, saling terkoneksi, sekalipun dalam sepi.

yah, selagi orang tua kita masih bisa memberi nasehat.. mari bersyukur dan belajar untuk mencernanya lebih 🙂

titik, dalam sejarah

menulis tanpa harapan akan apresiasi. yang terpenting kata-kata dalam kepala tidak akan berlalu begitu saja seiring dengan waktu yang selalu berjalan cepat. semogalah semua rangkaian kalimat itu akan menjadi pengingat di masa depan. pertanda bahwa aku pernah di fase itu, bahwa mungkin dulu aku memang orang yang berbeda. keinginan agar rasa yang dilalui abadi dalam kenangan. pertanda bahwa pada akhirnya semua akan dilewati dengan baik-baik saja. cuma itu, sungguh cuma itu. kadang tak butuh diskusi, hanya ingin ruang berekspresi. bukan tidak peduli, hanya ingin momen jujur dengan diri sendiri. karena tanpa menulis, semua perjalanan itu takkan muncul dalam sejarah.

kamu dan isi kepalaku

kalau bisa kuibaratkan, kepalaku bak kubikal kerja di kantor pada umumnya. ia memiliki banyak sekat, dan setiap pemikiran menempati kubikalnya sendiri. tapi tidak dengan kamu.

kubikalmu bukan di sudut sana, bukan juga di sudut sini, atau di tengah sana. kamu ada di mana-mana. gentayangan dalam otakku. setiap pemikiran secara otomatis mengarah kepadamu. di saat-saat jam terpadat kerja otakku, kamu mampu hadir begitu saja membuyarkan isi kepalaku.

memang kupikir tidak baik memberikanmu kubikal sendiri, di titik tertentu. aku takut dalam satu hari syarafku tidak mampir ke kubikalmu. aku tidak mau membatasi gerak gerikmu dalam pikiranku. aku tidak mau membuatmu tersudut, atau terabaikan oleh segala rutinitas otakku. kamu tidak pantas menempati posisi seperti itu. kamu seharusnya selalu ada seiring dengan denyut nadiku, meresap ke dalam syaraf-syarafku.

dan malam ini, parasmu muncul di hadapanku, bayanganmu terpantul di bola mataku.

lagi dan lagi.

*ditulis di ketinggian jelajah 33.000 kaki

sepasang bola mata

sepasang bola mata itu
menari lincah dalam kelopaknya
berbinar, seiring senyum yang mengembang di dekatnya
tak henti-hentinya ia berkedip, berputar, ke kanan, ke kiri
senada dengan cerita yang ia lontarkan

sepasang bola mata itu
adalah hal yang membuatku jatuh cinta
dengan tatapannya yang tak pernah lepas
pada pertemuan pertama
tatapannya yang teduh, menyenangkan, dan penuh cinta

sepasang bola mata itu
yang menarikku ke dalam indah dunianya
tanpa drama untuk mendewasa

sepasang bola mata itu
yang menghadirkan rasa percaya
bahwa hidup akan jadi lebih baik
apabila kita selalu bersama

ironi sang waktu

“hal yang paling menyeramkan bagiku adalah waktu.”

ucapan itu terlontar oleh seorang teman. sepertinya ia menyadari bahwa ia semakin tua, dan seluruh pengalaman-pengalaman yang ia rasakan ternyata sudah jauh di belakang. saya hanya mengangguk-angguk, setuju.

namun jika saja saat itu saya memahami apa yang sebenarnya ia rasakan, mungkin saya justru tidak bisa berkata-kata lagi. semakin ke sini, saya semakin merenungi kalimat itu dan…. damn, it’s right.

saya nyaris kehilangan akal ketika harus mengingat betapa cepatnya saya bertemu dengan akhir minggu. alih-alih senang, yang muncul malah rasa keheranan. apa saja yang telah saya lakukan tanpa sadar, sampai minggu-minggu pun telah berlalu? apakah saya sudah memanfaatkan waktu sebaik mungkin?

saya tidak berani menjawab. takut akan jawaban yang terlontar, takut bahwa jawaban yang ada di benak saya terlalu menyeramkan.

apa saja yang sudah saya lakukan?

—-

berbicara masalah waktu, bolehlah saya bercerita sedikit mengenai masa lalu. ketika saya merantau di Jogja untuk menempuh kuliah, rasanya waktu itu benar-benar menyenangkan. berjumpa dengan teman-teman baru, tinggal di kota yang kecil, nyaman, dan sederhana. jauh dari rumah nampak tidak terlalu masalah, karena saya benar-benar menikmati hari-hari saya di Jogja. anggaplah semua pengalaman menyenangkan ini adalah penawar rasa rindu saya terhadap rumah.

namun ketika saya merasa semakin tua, pilihan merantau mendadak terasa pilu. mungkin ini baru saya rasakan ketika pikiran saya sudah lebih dewasa, jauh lebih matang dibandingkan jaman saya kuliah.

kalau saya bertambah tua, orang tua saya juga bertambah tua, kan?
lalu kalau suatu hari saya menikah, artinya saya memiliki hidup baru, bukan? saya menjalani hidup sendiri, dan orang tua saya mengikhlaskan saya berbahagia dengan orang lain? bagaimana dengan mereka? bagaimana dengan hari tua mereka, ketika putri-putrinya telah memiliki pilihan hidup masing-masing?
bagaimana dengan kesehatan mereka?

duh, Tuhan. rasanya sedih. memang memiliki hidup baru bukan berarti meninggalkan orang tua di belakang. tapi melewatkan waktu tidak di sisi orang tua di saat mereka menua, adalah kesedihan tersendiri. kesedihan yang notabene dihadapi seorang anak ketika beranjak dewasa. keikhlasan yang harus dipegang teguh oleh orang tua.

keadaan ini lantas tidak terbantu dengan jarak. sudah 8 tahun saya tinggal berjauhan dengan orang tua, dan rindu saya tidak pernah habis kepada mereka. kadang saya terlalu sibuk di perantauan sehingga lupa memikirkan: bagaimana orang tua saya di rumah? apakah mereka sehat-sehat saja? ada kabar terbaru apa di rumah?

long distance relationship yang sangat berat. sungguh. LDR yang semakin dibuat berat oleh perbedaan umur saya dan orang tua.

karena LDR ini, berkesempatan pulang ke rumah terasa seperti angin surga. menikmati waktu di rumah bersama keluarga justru menjadi momen berharga. beda sekali dengan jaman kuliah. setiap waktu dimanfaatkan untuk jalan-jalan. pulang ke rumah, namun waktu yang dihabiskan justru lebih banyak di luar, bukan dengan orang tua.

belum lagi berbicara mengenai adik. mereka yang dulu selalu diajak berantem, sekarang sudah jauh berbeda. sudah mulai dewasa. perdebatan tidak penting sudah berkurang. ada rasa rindu yang sangat dalam diantara saya dan mereka. tidak terbalut dengan kata-kata manis, namun tentu kita tahu bagaimana gaya orang merindu, kan?

ketika hendak kembali ke perantauan, pelukan keluarga terasa lebih hangat. doa-doa yang mereka bisikkan adalah kekuatan untuk selalu tegar dalam menjalani hari-hari. hati-hati, kerja yang baik, jaga kesehatan. kurang lebih begitulah pesan mereka kepada anak sulungnya ini. pesan yang selalu saya coba untuk lakukan, meski di beberapa titik, terasa sulit.

bagaimanapun juga… apapun yang saya rasakan, apapun yang saya ceritakan, tidak akan pernah menghambat jalannya waktu. ya, semoga saja, saya tidak kehabisan waktu untuk membahagiakan orang tua dan melihat adik-adik saya bertumbuh dewasa. semoga saja waktu yang akan mengantarkan doa-doa kembali pada kita. semoga waktu selalu menjadi pengingat untuk kita, agar lebih menghargai kesempatan bersama dengan orang-orang tersayang.