Jogja dan Hujan

hujan menyeruak dalam heningnya siang di Yogyakarta. seketika Jogja berubah menjadi kelabu. sejumlah pengendara motor terpaksa menepi untuk membuka jas hujan atau berteduh. pejalan kaki berlarian mencari perlindungan. sementara pengamen masih setia bernyanyi tegak mengiringi merahnya lampu lalu lintas; bersainglah suaranya dengan deras hujan.

Sagan selalu menghadirkan suasana sendu ketika hujan. jalanan menjadi lengang dan dedaunan meneteskan anak hujan. suara air membentur aspal terdengar riuh namun merdu. menidurkan anak kecil yang terlampau lelah bermain, menghadirkan inspirasi bagi mereka yang tengah buntu menulis. sementara di Karangwuni, mahasiswa terpaksa duduk lebih lama di warung burjo menunggu hujan reda. rumah makan terlihat sesak dan ramai karena pengunjung tak bisa pulang. supermarket dipenuhi pengendara motor yang sekedar menumpang berteduh.

buatku, hujan di Jogja terasa istimewa. sekalipun tak jarang aku basah kuyup karena jas hujan tak mampu menutup ujung kakiku, tapi perasaan tenang itu tetap mendominasi. aku dan semua kenanganku tentang hujan terasa berbeda di Jogja.

bukan soal asmara, tapi tentang nuansa. jatuhnya air dari langit serasa melodi indah bagiku. melodi yang tak keberatan kuputar ulang berkali-kali.

entah apa yang membuat hujan terasa istimewa di Jogja. memandangi hujan, berteduh dari hujan, dan kuyup kehujanan semuanya terasa sendu sekaligus menenangkan. seolah alam berkata semua akan baik-baik saja. seolah kita diminta untuk menikmati irama hujan yang tak menentu.

aku merindukan Jogja dengan hujannya. ingin aku kembali ke masa lalu hanya untuk berkendara di tengah hujan atau memandangi hujan. menikmati petrikor dan menyerap sisa-sisa dingin awan kelabu. menapaki aspal yang basah, berjalan seolah-olah siap untuk menyongsong awal yang baru.

untuk Jogja dan hujan,
semoga kita segera bersua dan bisa mengulang rasa bersama.

Kimi

Saya tidak pernah menyangka sebelumnya, bahwa dalam empat bulan terakhir ini saya akan merawat anak kucing untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Saya menyukai kucing tapi tidak pernah memiliki kucing. Paling mentok hanya memberi makan kucing liar yang ada di sekitar rumah. Lalu Tuhan menghadirkan kucing secara tiba-tiba yang akhirnya saya rawat di rumah.

Cerita ini agak panjang. Semoga bisa kalian baca sampai selesai untuk memahami perasaan saya, hehe.

Kedatangan Kimi
Di suatu pagi hari sekitar empat bulan lalu, saya mendengar suara tangisan anak kucing di depan rumah saya. Ketika saya membuka pintu, saya mendapati seekor anak kucing yang masih sangat kecil sekali berlari mengejar sekuriti yang tengah berpatroli. Refleks tanpa pikir panjang, masih hanya mengenakan daster, saya mengejar anak kucing tersebut dan memanggilnya. Ia berlari ke arah saya dan langsung saja saya pangku. Seketika tangisannya berhenti.

Sedih sekali saya melihatnya. Entah dari mana datangnya anak kucing ini. Komplek perumahan saya adalah komplek perumahan yang hanya memiliki satu jalur pintu keluar masuk dengan tembok yang tinggi. Di sekitar rumah saya memang banyak kucing liar yang saya dan tetangga rumah biasa beri makan, tapi tidak ada kucing betina yang hamil. Kalau membayangkan anak kucing ini berjalan jauh dari akses masuk komplek sampai rumah saya rasanya agak mustahil. Saya sejujurnya memiliki asumsi bahwa mungkin saja ada yang sengaja menaruh anak kucing ini di sekitar rumah kami. Entahlah, saya tidak pernah tahu pasti. Yang jelas, anak kucing ini saya rasa belum mampu bertahan sendiri tanpa induknya. Saya sendiri tidak menemukan induk kucing di sekitar anak kucing ini.

Saya hendak merawat anak kucing ini, setidaknya membantu anak kucing ini untuk bertahan. Saya sempat bertanya di grup warga perumahan, namun tidak ada yang merespon ketika saya bertanya apakah ada yang memiliki anak kucing ini atau bersedia merawatnya. Lalu saya berkata pada suami bahwa pada prinsipnya saya ingin merawat anak kucing ini sampai dia mampu bertahan sendiri. Jika suatu saat ada yang mengaku memiliki anak kucing ini, silahkan ambil kembali. Saat itu, yang terpenting bagi saya adalah dia bisa makan dulu dan tidak menangis lagi.

Anak kucing itu saya beri nama Kimi. Entahlah, tiba-tiba saja nama Kimi terlintas di otak saya. Saya meminta informasi dari teman saya yang juga menyukai kucing, bagaimana caranya memberi makan anak kucing yang masih kecil ini. Waktu itu masih pagi, dan belum ada petshop yang buka. Alhasil saya hanya bisa membeli makan basah untuk kucing dewasa yang kemudian saya tambahkan air sehingga menyerupai bubur. Syukurlah dia mau makan sedikit, walau masih suka menangis. Namun ketika saya pangku Kimi, dia terlelap di pangkuan saya. Setiap terbangun dan menangis, saya akan pangku Kimi sampai tangisannya mereda.

Kimi, hari pertama di rumah. He was this small.

Untuk memeriksakan keadaannya, saya membawa Kimi ke dokter hewan. Setelah diperiksa, diperkirakan usia Kimi baru tiga minggu. Beratnya pun hanya 200gr dan Kimi ternyata jantan (saya kira sebelumnya betina). Dokter menanyakan saya apakah ada induk atau anak kucing lainnya yang terlihat di sekitar rumah, yang tentu saja saya jawab tidak. Saya juga baru tahu, biasanya anak kucing masih kerap bermain dengan saudara atau ibunya. Jika tidak ada, mungkin memang Kimi ini nyasar, atau entah mungkin sengaja diletakkan di sekitar rumah saya. Syukurnya, kondisi fisik Kimi baik, kecuali jamur (ringworm) yang banyak menempel di tubuhnya. Dokter hewan pun memberi resep vitamin dan cara mengobati jamur Kimi. Sebagai orang yang baru pertama kali akan merawat kucing, saya bertanya secara detail kepada dokter makanan dan minuman apa yang harus dan bisa dikonsumsi oleh Kimi yang usianya masih sangat kecil itu.

Hari itu, jadilah saya memborong semua kebutuhan kucing: kandang jeruji besi, makanan khusus bayi kucing, susu kucing, underpad, litter pup, dan VCO. Rasanya overwhelmed. Takut salah cara merawat Kimi yang masih kecil. Apalagi dokter mengatakan ada kemungkinan saya harus membantu Kimi untuk pipis dan pup karena biasanya bayi kucing masih buang air dengan dibantu jilatan induknya. Duh, mengurus bayi kucing di rumah sendirian, di mana saya juga bekerja pagi sampai malam, membuat saya cemas apa saya bisa membuat Kimi bertahan. Namun, teman saya kembali menguatkan dengan, “Yang penting kamu udah coba, Mba. Kalau misal Kimi nggak bertahan, mau gimana lagi.”

Dan didorong oleh kalimat itu, jadilah kandang kucing terpasang di rumah saya dalam waktu sekejap. Baru sehari saya merawat Kimi, saya sudah dibuat takjub. Energi Kimi luar biasa besarnya. Karena harus bekerja, saya letakkan Kimi di kandang beserta makanan dan susunya. Saat saya pulang kerja, saya mendapati Kimi sudah di luar kandang dan menangis. Itu terjadi selama beberapa hari. Bahkan ketika saya sudah tutup sebagian kandangnya dengan kardus pun, dia masih bisa keluar kandang. Untungnya dia tidak tertimpa barang atau terjebak di sudut rumah saya. Memang, setiap dimasukkan ke kandang, dia akan memanjat ke atas, mencari celah untuk keluar kandang dan melompat begitu saja.

Di sisi lain, Kimi cepat mandiri. Tadinya saya sempat membantu Kimi untuk buang air dengan cara menepuk-nepuk tisu yang sudah dibasahi ke saluran pipis dan pupnya. Namun begitu saya tinggal ke kantor, ternyata sudah bisa buang air sendiri, walaupun belum bisa di pasir. Lama kelamaan, dia belajar pup di pasir sendiri.

Namun kemudian, saya dipusingkan oleh Kimi yang diare. Kata dokter, mungkin itu karena penyesuaian salur cerna Kimi terhadap makanan barunya. Syukurnya, nafsu makannya masih baik. Perlahan-lahan, Kimi akhirnya beradaptasi dengan makanan dan susu. Itupun dengan sekian percobaan, sampai akhirnya saya mendapatkan makanan mana yang disukai Kimi.

Hari demi hari berganti, fisik Kimi sudah lebih baik dibanding sebelumnya. Jalannya tidak lagi goyah. Hanya saja, jamur di badannya susah menghilang meskipun setiap hari sudah saya balurkan VCO. Namun secara keseluruhan, kondisi fisik Kimi makin baik.

Oh ya, setelah pengalaman Kimi yang akhirnya tetap bisa menerobos kandang, akhirnya saya putuskan untuk melepasnya di halaman belakang rumah yang semi outdoor. Kimi biasa tidur di pet cargo yang saya lapisi under pad dan selimuti handuk. Namun, ujung-ujungnya Kimi lebih suka tidur di keset kami. Karena masih berjamur, Kimi memang tidak kami izinkan masuk ke dalam rumah, karena saya sendiri sudah terkena jamurnya di beberapa bagian tubuh.

Kimi yang Enerjik
Kimi sangat suka memanjat pintu teralis rumah. Kadang sampai atas pintu, kadang sampai bagian tengah. Kimi tidak punya rasa takut. Kalau lagi aktif, dia sangat sulit untuk dikejar dan ditangkap untuk diberi vitamin. Kimi juga sangat suka bermain. Kimi suka mengejar bola dan menangkap gantungan bulu. Namun, bagi Kimi, apapun benda padat dan bisa digerakkan/bergerak, itu adalah mainannya. Batu kerikil, plastik, sampah daun, apapun yang tergeletak di lantai menjadi alat mainnya.

Kimi yang hobi memanjat.

Energi Kimi yang berlebih alhasil mengacaukan kondisi belakang teras rumah. Keset melayang entah ke mana, sandal sudah tidak pada tempatnya, pot berjatuhan, bahkan rumput kebun belakang kerap dicabutnya untuk dimainkan. Lantai rumah jadi mudah kotor karena pasir litter yang bertebaran di mana-mana, karena dia suka melompat dari litter box. Semakin besar, Kimi justru semakin senang bermain. Kaki saya dan Made selalu jadi sasaran gigitannya. Memang main-main sih gigitannya, tapi tetap saja sakit. Alhasil tiap kami berjalan di belakang rumah, Kimi selalu bermain-main dengan kaki kami. Sudah dimarah dengan cara apapun tetap tidak mempan. Apa yang saya lakukan untuk memarahinya justru dianggapnya sebagai bagian permainan, sehingga ia semakin semangat menggigit.

Kimi dan mainannya.

Kimi seolah mempunyai dunia sendiri. Dia bisa bermain sepanjang hari dengan objek apapun. Melompat, berlari, bersembunyi, mengejar sesuatu entah apa, dan itu berulang terus. Kimi lebih aktif di malam dan pagi hari. Kalau siang ketika saya ada di rumah, biasanya dia kebanyakan tidur. Tapi sekalinya terbangun, dia pasti langsung bermain.

Masa-masa Berat
Sampai akhirnya sebulan yang lalu, Kimi diare. Sudah lama dia tidak diare semenjak pergantian makanan di awal kedatangannya. Kemudian, Kimi muntah. Hal mengganggu lainnya adalah Kimi cenderung buang air sembarangan jika sudah diare. Ini cukup merepotkan karena saya harus membersihkan rumah sebelum atau sepulang kerja.

Sebelum tambah parah, saya bawa Kimi ke dokter. Setelah dilakukan tes darah, sepertinya ada gangguan di saluran pencernaannya. Entah apa yang ia makan di belakang rumah sampai membuatnya diare dan muntah. Supaya lebih gampang dimonitor, Kimi dirawat beberapa hari di klinik.

Kimi waktu diinfus.

Klinik yang saya datangi rajin memberi kabar Kimi setiap hari. Semakin hari, di klinik Kimi semakin lincah. Setelah empat hari opname, saya menjemput Kimi. Dokter bilang Kimi lucu sekali dan menjadi kesukaan para dokter dan petugas di klinik. Saya senang mendengarnya. Memang, raut wajah Kimi itu lucu. Perpaduan warna hitam dan putihnya sempurna dan nyaris simetris. Seperti kucing hitam yang memakain kaos kaki putih dan memiliki janggut putih. Mungkin dokter juga menyukai Kimi karena Kimi aktif dan gemar mengajak bermain.

Sampai di rumah, saya tidak punya opsi selain menaruh Kimi di kandang agar dia tidak makan sembarang benda dahulu. Namun dengan energi Kimi yang berlebih, kandang menjadi berantakan dan mengotori rumah. Hal ini cukup membuat saya kehabisan energi karena saya tidak hanya memberikan makanan dan obat untuk Kimi, tetapi juga bebersih setiap hari. Wadah makanan dan minuman ditumpahkan. Pasir di mana-mana.

Kimi dan kekacauannya.

Saya kemudian memutuskan melepaskan Kimi dari kandang setelah kondisinya membaik agar rumah tidak menjadi kotor akibat ulah Kimi di kandang. Seminggu pertama berjalan lancar. Namun akhirnya, Kimi diare lagi. Muntah lagi. Kembali saya menemui dokter dan Kimi harus meminum obat kembali. Kali ini bahkan ditambahkan obat kapsul yang menurut saya cukup memakan waktu dalam meminumkannya. Namun saya tak punya pilihan lagi supaya Kimi cepat sembuh.

Akhirnya, saya kembali meletakkan Kimi di kandang dengan segala rutinitas obatnya. Tentu, kekacauan kandang dan rumah terjadi kembali. Kandang dan sekitarnya tak berbentuk. Lantai rumah menjadi kotor. Saya harus berulang kali mengisi tempat minum dan makan Kimi karena sering bercampur dengan pasir. Dan itu terjadi setiap hari. Sampai akhirnya saya memutuskan membeli kandang aluminium yang litter box-nya dimasukkan ke lubang khusus sehingga Kimi tidak menumpahkan litter box-nya lagi.

Apakah berhasil? Bisa dibilang iya, bisa dibilang tidak. Litter box tidak tumpah tapi pasir tetap bertebaran di mana mana. Air minum tetap tumpah. Berhubung lantai kandang baru terbuat dari keramik, pasir dan air yang tumpah pun membekas dan membuat lantai marmer kotor. Kandang aluminium pun ternyata tidak terlalu membantu.

Kemudian ketika Kimi sudah tidak diare, saya kembali lepaskan Kimi agar dia bermain di belakang rumah. Saya berpikir tidak mungkin rasanya Kimi diare lagi. Namun saya salah. Seminggu kemudian, Kimi kembali diare…

Untung saja obat dari klinik masih tersisa. Kembali Kimi saya masukkan ke kandang dan minum obat setiap hari. Tapi jujur saja, melakukan ritual ini dua kali sehari, belum termasuk membersihkan sekitar kandang, mengisi ulang makanan dan minuman Kimi, bagi saya yang sampai rumah baru malam hari ini mulai terasa melelahkan.

Saya mulai bertanya-tanya, apa Kimi cocok dirawat di rumah ini? Apa benar lingkungan di belakang rumah ini cocok buat Kimi? Saya nggak kebayang kalau Kimi nanti diare sampai empat kali. Sampai saat ini saya tidak tahu apa yang ditelan Kimi sehingga dia diare.

Ketika Kimi diare, selain menghabiskan ongkos, Kimi juga menghabiskan energi saya. Di sisi lain, kasihan juga Kimi kalau jadi sakit terus tanpa saya bisa tahu penyebabnya. Saya kasihan melihat Kimi harus di kandang sepanjang hari. Namun kalau dilepas, saya nggak tahu Kimi makan apa sampai akhirnya diare berulang kali. Kalau dimasukkan ke dalam rumah, saya belum siap. Kimi terlalu aktif untuk diam di dalam rumah dan saya takut dia akan mencelakakan diri sendiri. Dan kalau Kimi di kandang terus, sejujurnya rumah justru semakin berantakan dan kotor.

Selama seminggu setelah diare ketiga saya rawat Kimi dengan kebimbangan. Kimi tidak mengerti jika dimarahi. Paling hanya bersembunyi sebentar. Beberapa saat setelah sembunyi, Kimi akan kembali bermain seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Salut saya pada energi dan nyali Kimi yang tiada habisnya.

Sementara, selama dua bulan terakhir, ada anak kucing baru yang berkeliaran di sekitar rumah kami, yang warna dan ukurannya sama dengan Kimi. Tingkah lakunya pun hampir serupa, hanya saja kucing baru ini takut didekati manusia. Saya beri dia nama Caplin. Dia setia menunggu saya memberi makan di depan rumah meskipun akan kabur jika didekati.

Pernah suatu saat saya melepas Kimi di depan rumah dan ia langsung bermain dengan Caplin. Semakin saya perhatikan, tingkah laku mereka mirip. Kimi aktif bermain dan Caplin mengikuti permainan Kimi. Cara makannya pun sama: Kimi mempunyai kebiasaan makan makanan kering dengan menggelengkan kepala sehingga makanannya pasti jadi berantakan. Saya pun memiliki teori jangan-jangan Caplin ini saudara Kimi yang sempat terpisah.

Kembali ke kebimbangan saya tadi, saya berpikir, apakah lebih baik Kimi saya lepas di depan rumah dan menjadi kucing komplek pada umumnya? Kucing-kucing ini biasanya rajin mendatangi blok rumah saya untuk mencari makan. Saya sendiri selalu menyiapkan makanan jika ada kucing yang mendekat ke rumah. Mereka tidak pernah keluar komplek perumahan. Biasanya hanya pindah nongkrong di blok lain.

Saya rasa, mungkin Kimi akan lebih bahagia bermain di luar rumah dengan Caplin. Tempat bermain Kimi juga akan jadi lebih luas. Dan berdasarkan pengalaman kemarin, Caplin tidak pernah berada jauh dari rumah saya. Mungkin karena Caplin masih kecil, dia belum berani menjelajahi blok lain seperti kucing dewasa lainnya. Jadinya, Caplin hanya bermain di dekat rumah saya karena di situlah sumber makan dan minumnya.

Saya pikir, mungkin Kimi akan lebih baik seperti itu. Mungkin dia lebih aman berada di depan rumah saya dibanding saya rawat di belakang rumah. Kimi seharusnya juga sama seperti Caplin yang bermain tidak jauh dari rumah. Setiap pagi dan malam, kemungkinan besar saya masih bisa melihat Kimi dan memberinya makan.

Minggu kemarin menjadi hari yang penuh pemikiran bagi saya. Saya tak bisa bohong bahwa keadaan saya tidak ideal untuk merawat Kimi yang terlalu aktif dengan potensi rumah berantakan ataupun Kimi menjadi sakit karena makan hal yang saya tidak ketahui dari kebun rumah. Energi saya yang sudah habis di jalan dan kantor, kemudian harus diserap lagi oleh kegiatan bebersih sekitar kandang Kimi, beserta rutinitas obat atau vitaminnya. Kerjaan yang terlihat sederhana namun cukup memakan waktu dan energi. Saya juga takut jika rumah menjadi kotor terus menerus, justru mendatangkan hal yang tidak baik bagi kesehatan kami.

Namun jika saya akhirnya melepas Kimi, artinya saya melepas Kimi seutuhnya. Kimi tidak lagi bisa menjadi kucing yang saya ajak bermain di dalam rumah. Kimi bisa saja pergi jauh dan tidak kembali. Kimi bisa jadi lupa dengan saya yang sempat merawatnya selama empat bulan. Kandang dan seluruh perlengkapan perawatan kucing pada akhirnya tidak akan terpakai lagi. Seluruh usaha yang saya kerahkan untuk Kimi menjadi tidak berujung. Lalu saya tidak tahu apakah Kimi bisa bertahan di luar, mengingat makanan yang disediakan di depan rumah bisa dimakan lebih dulu oleh kucing mana saja. Kimi sudah terbiasa makan di tempat yang aman dan menghabiskan makanan yang hanya untuknya seekor.

Sungguh, saya dilema di hari Minggu itu. Sampai akhirnya, setelah pemikiran panjang.. Saya melepas Kimi di depan rumah. Demi kebaikan saya pribadi dan Kimi. Pada akhirnya, saya mengembalikan Kimi ke tempat saya menemukannya.

Melepas Kimi
Kimi saya lepaskan di depan rumah. Karena sebelumnya Kimi pernah saya ajak bermain di depan rumah, ia tidak terlalu asing dengan situasinya. Hanya saja sebelumnya, setelah capek bermain, dia biasanya akan menunggu depan pintu rumah dan mencari celah untuk masuk ke rumah. Sepertinya, Kimi memang sudah lebih nyaman bermain di belakang rumah saya.

Sehari setelah melepas Kimi. Menangis lalu fotoan sama Kimi.

Begitu saya lepas di depan rumah, Kimi langsung bermain dengan Caplin. Mereka seirama. Meskipun Caplin kerap memarahi Kimi yang terlalu aktif, namun akhirnya mereka selalu bermain berdua. Setelah melepas Kimi, saya dan suami kebetulan harus pergi keluar sehingga tidak bisa mengamati pergerakan Kimi di hari itu. Saya pasrah. Entah saat pulang nanti Kimi masih ada atau tidak.

Ketika saya pulang di malam hari, Kimi langsung berlari ke rumah saya dari ujung gang. Seolah tidak terjadi apa-apa, Kimi langsung menggigit kaki saya. Mungkin Kimi tidak tahu bahwa sesungguhnya ia sudah dilepas. Hal ini justru membuat saya sedih dan merasa bersalah. Saya juga masih punya PR yang harus saya tuntaskan, yakni membuatnya mengerti bahwa makanan di depan rumah adalah hal berharga yang harus segera ia makan sebelum keduluan kucing lain. Ini dikarenakan Kimi lebih memilih bermain dan berlari-lari dibandingkan langsung makan.

Selama empat hari, siklus berjalan sedemikian rupa. Perlahan-lahan ia mengerti bahwa ketika makan disediakan, ia harus makan atau resikonya tidak makan sampai malam karena dihabiskan kucing lain. Saya bertemu Kimi setiap pagi menjelang kerja dan malam hari sepulang kerja. Tingkahnya masih sama. Berlarian ke sana kemari, mencabut rumput di kebun saya, menggigit kaki saya, lalu kembali bermain. Tingkahnya tidak pernah berubah. Saya merasa lega. Setidaknya ia lebih bebas dan bahagia, apalagi ditemani Caplin. Saya berharap ia akan menjadi seperti kucing komplek lainnya, yang berkeliaran di komplek kami dan setia ke rumah untuk mencari makan.

Memang ada masa-masanya ketika Kimi suka mengintip pintu rumah, seperti berharap bisa masuk kembali. Hal itu yang membuat saya sedih. Kimi masih mengira ia bisa masuk ke rumah saya dan melakukan hal yang biasanya ia lakukan.

Semoga saya tidak salah. Melepaskan Kimi (kembali) adalah bentuk cinta saya dalam situasi seperti ini.

Kehilangan Kimi
Tapi Kamis malam kemarin ketika saya sampai di rumah, Kimi tidak ada. Yang ada hanyalah Caplin yang dengan sabar menunggu saya memberi makan. Saya panggil nama Kimi, tidak ada yang mendekat. Saya gemerincingkan kunci rumah, tidak ada yang mendekat. Biasanya, Kimi akan berlari ke arah saya jika saya membawa barang yang bergemerincing, seperti mainan bulunya.

Di situ saya merasa sedih. Saya tidak tahu Kimi ke mana. Ketidaktahuan itulah yang membuat saya kepikiran. Rasa-rasanya Kimi tidak mungkin pergi jauh, mengingat pola mainnya bersama Caplin yang hanya di sekitar rumah saya saja. Sebagai kucing kecil, Kimi sebenarnya masih takut dengan orang baru ataupun motor yang melintas di depan rumah. Ia berlari bebas hanya ketika depan rumah sepi, itupun hanya benar-benar di sekitar rumah.

Saya berpikir, mungkin saja jika ada yang melihat Kimi berkeliaran lalu dibawa pulang untuk dipelihara. Entah oleh siapa, saya tidak tahu. Jika itu benar, semoga saja Kimi jadi lebih bahagia dan sehat. Lebih cocok dengan lingkungan barunya.

Namun setiap saya ingat wajah lucunya, saya sedih. Entah ini karena saya rindu pada tingkah lakunya atau merasa bersalah. Satu bulan terakhir ini saya lebih sering marah ke Kimi karena membuat rumah kotor. Kimi bahkan mungkin tidak tahu bahwa ia dimarahi, tapi tetap saja saya jadi merasa bersalah. Sesungguhnya mungkin yang Kimi butuhkan adalah rumah yang luas dan seseorang yang bisa lebih sering menghabiskan waktu dengannya. Sosok yang masih memiliki banyak energi untuk meladeni energinya. Mungkin saya pekerja kantoran dan tinggal di rumah tanpa ART ini akhirnya kewalahan merawatnya.

Saya cukup tidak menyangka, saya benar-benar harus merelakan Kimi pergi entah ke mana secepat ini.

Kini hanya Caplin yang setia menunggu saya memberi makan.

Caplin (kiri).


Mungkin ini terdengar bodoh, tapi saya berharap Kimi tidak lupa dengan saya. Di mana pun dan dengan siapapun Kimi sekarang berada, saya berharap Kimi tidak lupa pada saya yang sebenarnya menyayanginya dan berusaha merawatnya sepenuh hati. Saya berharap Kimi tidak akan lupa pada hari ketika ia ditemukan, ia kerap menangis lalu berhenti menangis ketika saya pangku. Berharap Kimi mengingat masa-masa awal dia di rumah dan bagaimana dia menguasai belakang rumah saya.

Sedihnya, saya tidak punya foto proper dengan Kimi karena ia susah sekali diajak foto saking aktifnya. Kini setiap saya melihat foto Kimi, saya hanya bisa merasakan sendu.

****

Kimi, ibu menemukanmu di depan rumah, yang datang entah dari mana. Kini, ibu harus merelakanmu yang pergi entah kemana, juga dari depan rumah.

Tentu kamu tak akan mengerti teks sepanjang ini, Kimi. Tapi semoga semesta menyampaikan padamu dengan caranya, bahwa ibu sebenarnya menyayangimu dan merindukanmu.

Mungkin seperti yang ibu sampaikan di awal ya Kimi, pada akhirnya, ibu hanya bertugas untuk merawat kamu sehingga kamu bisa bertahan sendiri di luar sana.

Terima kasih sudah menjadi kucing pertama yang ibu rawat dan mengajarkan banyak hal. Maaf kalau akhirnya kebutuhanmu tidak sesuai dengan kehidupan ibu.

Jangan lupakan ibu ya, Kimi.. Semoga semesta selalu menjagamu.

Salam,
ibu pertamamu.

Kimi, I miss you.

A Special Note to My Fantastic Two

Today is almost the end of July, a month that flew so fast for me. July is also the month of my inspiring souls on the earth. So, to cherish this special month, let me write something special for my beloved ones:

My husband,
You just turned 31 this year, and maybe you feel that you have already passed a long time of journey. This can’t be more true, but I just want to remind you that life will still give you a long time to be a good person and surprises. Amen.

But I don’t want to talk about the age. I just want to thank God and His nature for bringing you to the earth, wandering your journey until you finally met me.

God must be so kind that you were born through your extraordinary parents. I should also thank Bapak and Ibuk because they raised you full of love so you can be the person you are now.

Now please read this carefully, Bli Bhela.

You are amazing. You are not someone with all those talents who makes you a superstar. You are an ordinary person, but you have this big pure heart. A pure heart with zero intention to hurt people, even if they were mean to you. You have this big heart that always embraces anything in your life. You are a loving soul. Your kindness and your sincerity always make me moved. I am trying not to be subjective because I am your wife, but I can say this because I have known you for the last five years.

You choose to have a simple life filled with kindness. You always keep your pure heart inside among all these crazy things in the world. You teach me to be a mature person with no arrogance. You teach me how to be humble. It’s hard for me to say the exact feeling that I feel along this time, but I am pretty sure you understand what I mean.

I know you have reached this stage because you have been through many ups and downs. And I really thank God for your every single past.

I wish you a life full of love and wisdom. You are the best gift that God gave to me. I love you.


Mama,
I always find it easier to share my feelings about you with the world rather than say it to you directly, Ma. I learn a lot from you about how to be a good person. You teach me to be kind despite any bad things in our life. You show me that happiness comes from a simple life.

You worked so hard along these years, ma. And still, you have raised your children so well, until now. You always give us the best thing that we could ever have. You keep making our life better and better. You know no tired, Ma. I don’t know how you could manage it all, Ma.

And after all those hard work during the last 30 years or more, now you are retired, Ma. I hope you really enjoy your retirement time. Just do whatever you want to do, Ma. You deserve the good times. You deserve all the good things in life because of your love and kindness.

You may not have the highest career somebody could have, but you always do your best during work. That is why you just keep telling me to be a good one at work. Now I see why. The good things will not come because of your position at work. It will come because of your good work.

Ma, I don’t know how my life would be without you. Your love covers me from the day I was born until today. It isn’t different whether I was still single or now that I’m married.

I love you so much, Ma. I wish you a healthy life that is always filled with love. Sure, most of that love comes from your girls, Ma.


The fun fact is, the birthday of my husband and mom just differs one day. Bhela’s birthday is just one day ahead of my mom’s birthday.

And yes, they are proof that Cancerians are so loving.
Lucky me!

dalam kelabu

dalam kelabu, bayangmu menggantung di sudut mataku. kadang kulihat kau di genangan air dekat kakiku melangkah. atau di balik jendela berembun saat cuaca sedang mendayu-dayu.

ruang abu selalu memberikan celah bagiku untuk menemukanmu. bahkan di dalam dinginnya udara yang menghantam paru, aku menemukanmu. membaur bersama angin, berputar-putar sebelum akhirnya menghilang.

kamu, bayangmu, ceritamu, yang tak pernah bisa aku lampaui.

persimpangan

rasa menimang-nimang masa lalu
seraya pandangan berkelana ke depan

ada sisa mimpi yang tak bisa diraih
melekat puing rasa yang tak bisa dipungkiri

ragu, kau melangkah
entah lebih indah menikmati nyaman di waktu lampau
atau mencoba menggapai mentari di hari baru

hari tak membuat kenangan lekang,
sekalipun tangan menyambut asa yang baru

kau menatap ruang kosong di persimpangan.

Hi, How Can I Help You?

I think I learned one thing new lately: not everyone needs our help. Well, my help, in this case. Sometimes our good intentions turn into something threatening.

Sometimes I feel like I don’t think I have to help in some cases that are not my responsibility, but sometimes I feel the urge to help. It depends on what is the case and who is involved. But little did I know that my help could feel like intimidation to certain people.

Maybe it’s my way of talking. Or perhaps the timing is just not right. However, it doesn’t feel good when you are responded like, “Back off. I don’t need your help. I know what to do. Please take care of your own business.”

Sure it’s not his fault. But I feel it isn’t my fault either. Maybe I pay my attention to the wrong person. Or perhaps he just doesn’t get it right. And it should be okay for both of us. No regret, no revenge.

Here is one thing that I need to remember: I should control my spontaneity in talking or doing. Maybe I should think twice before I offer some help. It doesn’t make me a heartless person. It’s just how I can channel my attention right.

It’s hard to stay quieter than ever, but I need to try.

mulai dari nol, ya..

hari ini adalah hari terakhir long weekend di bulan Februari. setelah sekian lama, akhirnya bisa juga kita menikmati long weekend. namun tidak seperti biasa, kali ini saya menghabiskan tiga hari libur ini dengan unpacking kardus pindahan.

sudah hampir tiga minggu kami menetap di rumah baru. sebuah tahap baru dalam hidup yang kalau diingat-ingat, terealisasi lebih cepat dari yang pernah kami bayangkan. tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa kami akan segera memiliki rumah. setahun lalu bahkan mikirnya ya mungkin akan beberapa tahun di apartemen dulu. atau mungkin ngontrak. tapi Tuhan baik sekali, memberikan kami kesempatan untuk punya hunian kecil yang pas sekali untuk keluarga kami.

perjalanan dari awal membangun rumah sampai rumah ini berdiri sepenuhnya tidak mudah. kami kejar-kejaran dengan masa sewa apartemen yang sudah mau habis. ditambah lagi dengan drama interior yang molor dari jadwal awal, membuat kami harus menunda kerjaan unpacking. rencana membereskan rumah dalam waktu singkat jadi harus diulur. alhasil, kami manfaatkan libur di setiap minggu untuk mencicil unpacking kardus. setiap lihat tumpukan kardus yang mau dibongkar kok rasanya udah capek duluan. tapi yuk tarik nafas, bisa yuk bisa walaupun energi rasanya habis..

oleh karena itu long weekend kali ini sejujurnya nggak berasa liburnya karena masih harus beres-beres. tapi orang tua saya bilang, kalau pindahan itu nggak bisa beres dalam sekali waktu. yasudahlah, dijalani saja ya..

selain menghabiskan waktu dan energi, urusan membangun rumah dan pindahan ini sungguh menguras pundi-pundi yang kami miliki. mungkin nggak harus dalam membangun rumah pun, yang namanya pindahan rasa-rasanya selalu menghabiskan uang. minimal untuk beli perabot yang gak bisa dibawa saat pindahan namun masih dibutuhkan di tempat baru. apalagi mengisi rumah yang benar-benar kosong, asli bikin boncos.

mengisi rumah dari nol, lalu tabungan saya pun nyaris menuju angka nol. catat mencatat kemudian masih terkejut melihat kebutuhan mengisi rumah itu luar biasa besar. artinya, nggak hanya harus mikirin cicilan rumah, tapi untuk isinya juga. double gak tuh, pengeluarannya?

sejujurnya saya pernah sampai pada pertanyaan “bisa nggak ya ini semua terlewati?” karena mengisi rumah juga akan menjadi ‘beban’ lumayan lama karena nggak mungkin untuk mengisi rumah sekaligus. perabot dan kebutuhan rumah perlu dipenuhi secara bertahap. oleh karena itu saat ini kami fokus dulu kepada hal-hal yang membuat kami bisa tidur dan makan dengan nyaman terlebih dahulu. sisanya dipikirkan kemudian.

waktu, energi dan pundi-pundi terkuras. rasanya kami tinggal di rumah ini dengan posisi di-reset. mulai dari nol lagi. memang akhirnya butuh pembaruan strategi dalam menabung energi dan duit yang kini disesuaikan dengan kebutuhan kami. tapi rumah yang kami tempati saat ini adalah landasan yang sangat-sangat luar biasa dari Tuhan untuk kami kembali melangkah maju, sehingga kami tidak punya alasan apapun untuk mengeluh atau mundur.

kami tahu Tuhan baik, maha baik. sembari berusaha kami selalu berdoa agar Tuhan selalu memberikan kekuatan bagi umatNya ini.

di atas semua itu, terima kasih, terima kasih, Tuhan.

seperti yang dikatakan oleh petugas pom bensin, “mulai dari nol, ya..” maka kami sedang mengisi tangki bensin kami agar segera penuh kembali.

Fase Hidup Baru di 2021

Tahun 2021 akhirnya terlewati. Tahun yang kadang terasa biasa saja tapi sejatinya ada beberapa milestone baru dan hal penting lainnya yang terjadi dan perlu dituliskan di blog ini, untuk dikenang dan menjadi catatan sampai tua nanti.

Menjadi Seorang Istri
Akhirnya, tiba di fase ini. Tahap kehidupan yang sejatinya lumayan saya tunggu-tunggu dalam beberapa tahun terakhir, haha. Sesederhana karena ingin bisa menghabiskan waktu setiap hari dengan suami. 24/7. Tidur nggak sendiri lagi. Pulang kerja ada yang bisa diajak ngobrol empat mata. Yah, intinya bisa menghabiskan waktu bersama-sama terus menerus, huehehe.

Saya dan suami sama-sama sepaham bahwa serangkaian upacara pernikahan hanyalah sebuah titik awal, dan yang terpenting adalah bagaimana kita hidup bersama ke depannya. Maka, kami tidak terlalu mengglorifikasi upacara pernikahan itu sendiri. Tetapi, kami tetap senang bisa melewatinya, karena saat rangkaian pernikahan inilah kami dibanjiri oleh doa dan cinta dari keluarga, sahabat, kolega, dan seluruh undangan yang hadir. Meskipun dibatasi oleh Covid-19, rangkaian upacara pernikahan yang digelar dengan sederhana ini tetap terasa hangat dan intim. Terima kasih untuk kalian yang sudah bersedia hadir, utamanya yang jauh-jauh hadir dari luar Bali.

Sejatinya saya dan suami tidak terlalu mirip dalam banyak hal. Justru kami sering kali memiliki cara berpikir yang berbeda akan suatu hal. Semakin hari justru semakin terasa perbedaannya, hihi. Tapi saya selalu belajar dari cara pandang suami, sehingga saya menyadari bahwa tidak selamanya pendapat kita adalah yang terbaik. Kita butuh pendapat orang lain agar tidak bias dan terpaku dalam suatu kebiasaan.

Selebihnya, kehidupan rumah tangga kami diisi dengan banyak cinta, cerita, perdebatan, tawa, air mata, dan pelukan. Suami adalah rumah. Bagaimana pun keadaannya, saya selalu lebih nyaman di rumah. Sebagaimanapun kami berdebat dan berantem, ujung-ujungnya ya ke dia lagi ketika saya butuh bersandar.

Hubungan cinta antar manusia itu unik. Semakin kamu mencintai seseorang, semakin mudah pula kamu kecewa dan sedih karenanya. Mungkin seperti itulah hukum alam. Seperti yang tertulis dalam buku The Book You Wish Your Parents Had Read (buku ini akan menjadi kitab saya, sih), kebahagiaan dan kesedihan itu selalu berjalan beriringan. Tidak ada mixing board untuk perasaan. Kebahagiaan dan kesedihan itu ibarat tombol volume. Kalau kamu kencangkan volume untuk kebahagiannya, otomatis kesedihan itu akan mengikuti. Begitulah kira-kira. Dan manajemen hati untuk mengelola kebahagiaan dan kesedihan inilah yang masih kami pelajari, dan akan terus kami pelajari sampai nanti.

Sekarang saya menjadi bagian dari dua keluarga besar. Setelah menikah, saya menjadi lebih memahami bagaimana pentingnya keluarga dalan kehidupan saya. Keluarga adalah pondasi kehidupan. Pada akhirnya, sejauh apa pun kami merantau, merekalah yang menjadi rumah ketika ingin pulang.

Membangun Rumah (Tangga)
Milestone berikutnya yang mengikuti fase pernikahan: membangun rumah. Sejujurnya nggak kebayang sebelumnya bahwa kami akan memutuskan untuk membangun rumah di tahun 2021. Semua terjadi begitu cepat, sampai sekarang kami masih suka amazed sendiri bahwa akhirnya kami akan segera punya rumah sendiri.

Semua diawali dari ajakan suami untuk mulai survei rumah. Sebelumnya, saya sendiri justru gak bercita-cita punya rumah di Jakarta. Pengennya ngontrak aja kemudian setelah pensiun balik ke Bali lagi, karena sejujurnya lebih pengen punya rumah sendiri di Bali. Tapi setelah diskusi panjang, ya ada baiknya juga punya rumah di Jakarta, mengingat kami sepertinya akan tinggal di sini dalam waktu yang lama.

Setelah survei beberapa perumahan, kami baru merasa bahwa menemukan rumah yang cocok itu nggak gampang. Jodoh-jodohan. Secara selera cocok, eh secara budget nggak cocok. Begitupun sebaliknya. Sampai akhirnya kami survei ke sebuah perumahan di Cimanggis, Depok dan langsung merasa cocok. Aksesnya dari jalan tol cukup dekat dan nggak terlalu jauh kalau mau ke kantor. Lingkungannya rasanya menyenangkan. Desain rumahnya juga ada nuansa Balinya hihi. Karena sudah punya perbandingan beberapa perumahan sebelumnya dan pilihan terakhir ini adalah kami rasa yang terbaik, maka kami sepakat untuk membeli sepetak tanah tersebut.

Kami pun melanjutkan proses transaksi sampai akhirnya deal dengan KPR-nya. Ini adalah komitmen terbesar dalam hidup selain menikah, karena tenor cicilannya yang panjang dan bikin deg-degan, hehe. Perjalanan menuntaskan urusan rumah ini masih sangat panjang. Nggak bisa dipungkiri keputusan membangun rumah ini membuat kami harus mengencangkan ikat pinggang dan belajar menabung. Semoga selalu ada rezeki untuk rumah kecil kami.

Proses pembangunan rumahnya sendiri tengah berlangsung sampai saat ini. Satu pelajaran lagi saat memutuskan untuk membeli rumah adalah biaya untuk mengisi rumah sendiri itu juga bikin boncos. Jadi sepertinya rumah ideal kami harus diisi dengan perlahan-lahan, menyesuaikan kemampuan yang ada. Kami belajar sabar, punya rumah ideal itu panjang perjalanannya. Namun bagaimana pun jalannya, kami bersyukur sekali bisa sampai di fase ini.

Rumah kami mungil sekali. Sungguh mungil sampai bingung mau ngatur interiornya seperti apa. Tapi saya percaya, rumah ini akan menampung dan memancarkan kehangatan dan cinta yang luar biasa untuk kami dan anggota keluarga yang lain kelak. Sebentar lagi, kami harus menyiapkan fisik dan mental untuk pindahan karena setiap perpindahan tidak pernah mudah. Semoga semua dilancarkan!

Home sweet home, soon!

Masih di Corporate Communication
Masih berkutat di pekerjaan komunikasi korporat dan hal-hal yang berkaitan (dan hal-hal yang nggak berkaitan pun haha). Di tahun ketiga bekerja di Corporate Communication justru semakin merasa banyak nggak bisanya. Saya merasa selalu belajar hal baru setiap harinya. Kalau bicara masalah kerjaan mah ada aja yang bikin pusing dan kesal, tapi pada akhirnya akan terlewati juga. Memang begitulah siklus pekerjaan, pusingnya pun tiada henti hahaha.

Di tahun 2021 ada atasan dan rekan kerja yang datang dan pergi. Namun, saya bersyukur karena lingkungan kerjanya tetap menyenangkan. Semoga akan selalu seperti itu sehingga jika pekerjaan terasa menyebalkan, orang-orang di sekitar saya masih mampu membuat saya untuk sabar dan bertahan.

Saya mau mengucapkan terima kasih banyak untuk atasan dan rekan kerja di Sekretaris Perusahaan. Terima kasih kalian orang-orang baik nan sabar, yang mau menyelesaikan keruwetan bersama-sama. Tanpa kalian, saya hanyalah remahan gorengan yang suka saya beli untuk sarapan. Semoga di tahun 2022 ini lebih banyak capaian yang kita raih, ya!

Sebagian tim Sekper, pasukan pengawal huru-hara.

Strengthened by My Inner Circle
Tahun 2021 juga bisa dibilang nggak mudah untuk dilalui. Pasti ada aja masalah-masalah yang sulit diceritakan kecuali pada orang-orang terdekat. Dan jiwa-jiwa yang baik inilah yang menjadi penenang saya ketika saya merasa butuh pendengar dan nasehat.

Ada mereka yang selalu siap untuk menampung uneg-uneg dan cerita bahagia saya secara langsung, di grup dan chat Whatsapp, telepon, juga video call. Mereka yang jarang melintas di media sosial namun selalu ada di belakang layar. Mereka yang saya mintakan pendapatnya kalau saya ragu. Terima kasih ya kalian, having you by my side is really a blessing. Semoga saja sampai tua nanti persahabatan kita selalu seperti ini ya…

Tapi, di tahun 2021 juga saya banyak merenung mengenai pertemanan. Apa kalau kita semakin tua, lingkaran pertemanannya menjadi begitu-begitu saja? Pada akhirnya, inner circle saya adalah orang yang itu-itu saja. Lo lagi lo lagi. Entah kenapa energi saya juga cepat terkuras jika bertemu dengan orang baru sehingga akhirnya nyamannya untuk mengobrol dengan orang yang itu-itu saja.

Jadi, terima kasih untuk kalian yang sabar-sabar mau mendengarkan cerita saya, suka ataupun duka (you know who you are!). Saya sungguh berhutang rasa kepada kalian.

Bertandang ke Kota Bengkulu
Di bulan November 2021, saya sempat melakukan perjalanan dinas ke Bengkulu. Lagi-lagi, kalau bukan karena urusan pekerjaan, rasanya agak nggak mungkin saya bisa berkunjung ke Bengkulu.

Nggak banyak bertandang ke tempat wisata di Bengkulu tapi sempat mampir ke pantai dan makan-makan enak. Asliii, makan seafood di Bengkulu sangat menyenangkan karena masakannya enak-enak. Mungkin karena dekat dengan pantai yaa.. Dan favorit saya adalah kepiting asap di Kampung Pesisir. Nagih! Mungkin olahan kepiting terbaik yang saya pernah makan sejauh ini.

Perkenalkan, si kepiting asap yang membuat saya tergila-gila.

My Skin is Getting Better!
Setelah dua tahun berjibaku dengan jerawat di wajah, akhirnya wajah saya jadi lebih baik dalam dua bulan terakhir di 2021. Setelah mencoba berbagai drugstore skincare dan nggak menunjukkan hal yang signifikan, akhirnya saya memutuskan untuk berkonsultasi online di sebuah klinik kecantikan yang direkomendasikan teman dekat saya. Sebelumnya sungguh enggan meluangkan waktu untuk konsultasi dan mencoba menggunakan krim dokter karena takut ketergantungan dan lokasi kliniknya yang jauh. Namun sejak ada cabang klinik yang dekat dengan tempat tinggal, ya sudah saya coba saja karena sudah bingung harus apa lagi dengan wajah saya ini.

Dan hasilnya, kondisi wajah saya memang membaik. Jerawat nggak lagi muncul, bekas jerawat mulai samar. Memang hasilnya nggak bisa instan tapi sungguh ini adalah kondisi wajah saya yang paling baik selama dua tahun ini. Sampai sekarang masih lanjut perawatan, semoga saja di tahun 2022 ini hasilnya bisa lebih baik lagi.

Belajar Lagi
Mulai jenuh dengan rutinitas kerja-kerja-kerja, saya mencoba mengikuti kursus bahasa Inggris online di akhir tahun. Dengan harga yang murah meriah, saya kembali belajar bahasa Inggris dari level dasar, untuk di level praktis. Sebenarnya tujuan ikut kursus ini tak hanya mengasah kemampuan lagi tapi juga melatih komitmen; sejauh mana saya bisa menepati deadline pengumpulan tugas?

Tugas yang sebenarnya tidak susah dan cuma dikumpul seminggu sekali ternyata tetap saja dikerjakan dengan sistem kebut semalam kayak jaman kuliah, haha. By the way, saya jadi merasakan juga kehidupan mahasiswa jaman pandemi yang belajar dan mengumpulkan tugas mengandalkan Google Classroom. Jujur senang dengan keputusan untuk kursus lagi karena itu jadi kegiatan baru. Ada alfternatif kegiatan dibandingkan terlalu lama menghabiskan waktu dengan media sosial.

Sempat Rajin Olahraga
Ada masa-masa saya dan suami rajin olahraga di GBK setiap minggu, meskipun cuma jalan aja nggak pakai lari. Lumayan bisa bergerak 4-5 km per minggu, sebuah pencapaian bagi kaum mager seperti kami. Setelah jalan santai, biasanya kami akan bermain bulutangkis selama kurang lebih 30 menit.

Tapi kemudian, dikarenakan setiap minggu kami harus mengalokasikan waktu untuk menengok progress pembangunan rumah, kami tinggalkan GBK dan beralih ke Buperta yang dekat dengan rumah. Menyenangkan sih olahraga di Buperta pagi-pagi setiap minggu, karena bisa lihat yang hijau-hijau sekaligus makan dan piknik. Sebuah situasi yang sulit didapatkan di Jakarta.

Namun entah mengapa kebiasaan ke Buperta juga terhenti, sepertinya karena lama-lama berbenturan dengan jadwal menengok rumah. Kembali berolahraga di apartemen saja, saya sempat rutin workout setiap sore, meskipun cuma 5-10 menit dan gerakannya yang simpel-simpel aja karena tujuan utama saya olahraga yang penting keringetan. Tapi lagi-lagi rutinitas workout terhenti karena sudah mulai lebih sering WFO dan kerjaan mulai terasa banyak lagi.

Karena level PPKM sudah lebih longgar, akhirnya saya bisa berenang di apartemen. Kegiatan berenang saya pun semakin termotivasi karena ada challenge renang yang saya ikuti di kantor. Ternyata yang susah sih bukan mencapai jarak renang yang ditentukan, tapi komitmen untuk bangun pagi dan berenang di kolam yang dingin. Guna mencapai target challenge, saya memang lebih suka berenang pagi hari sebelum WFH. Kalau akhir minggu renangnya pasti lebih ramai dan malah susah mencapai target pribadi saya, 1 km per sekali renang. Kelamaan berendam dan diamnya!

Sudah 5 km berjalan, tinggal 1 km lagi untuk menyelesaikan challenge. Setiap kali berenang, senang rasanya bisa melihat waktu yang dibutuhkan untuk menempuh 1 km non stop makin cepat karena pace-nya semakin baik. Olahraga yang memang cuma saya senangi ya renang, hehe. Namun sayang sekali, saya nggak bisa menyelesaikan challengenya karena hal di bawah ini..

Siapa sangka ini menjadi renang terakhir di 2021, di saat senang-senangnya karena pace-nya semakin baik.

Burned Baby, Burned!
Ada kejadian tidak mengenakkan di akhir tahun, saya mengalami luka bakar akibat ketumpahan teh panas (Iya, teh yang baru diseduh sepenuhnya dengan air baru matang. Sepanas itu). Kejadian yang selalu mengundang pertanyaan ‘Kok bisa sih?’ dan orang-orang mungkin bingung separah apa luka yang saya alami sampai harus bedrest seminggu. Susah untuk menjelaskannya, tapi posisi luka bakarnya memang membuat saya tidak bisa duduk dan berjalan dengan baik di minggu-minggu awal, hiks. They see me limping, they asking~

Sempat bersedih kenapa sih harus ada kejadian seperti ini, karena saya jadi tidak bisa menuntaskan beberapa hal seperti menyelesaikan challenge renang di kantor, menonton film yang saya tunggu-tunggu di bioskop, bertandang ke tempat tertentu, bahkan mau sekedar ke kantor pun nggak bisa. Di situ saya menyesali seharusnya saya melakukan apa yang ingin saya lakukan saat ada waktu dan mengabaikan rasa malas. Intinya, banyak hal-hal yang tertunda karena sakit saya ini.

Di satu sisi kejadian ini mengajarkan saya untuk lebih hati-hati dalam berbuat apapun. Memang sih saya anaknya juga suka gak fokus kalau lagi mengerjakan sesuatu, dan kadang kurang hati-hati. Kayaknya kemampuan motorik saya memang perlu dipertanyakan sih..

Syukurnya saat catatan ini ditulis, saya sudah bisa masuk kerja dan pergi lagi, walaupun belum bisa jalan anggun dan berolahraga karena lukanya belum sepenuhnya kering. Saya berterima kasih kepada sosok yang akan saya bicarakan di bawah ini, karena selama hampir tiga minggu, dialah yang sabar mengganti perban dan mengoleskan obat karena saya nggak bisa melakukannya sendiri. Saya tahu dia sebenarnya sempat stress melihat luka dan keadaan saya, bingung pas lihat saya menangis sejadi-jadinya, tapi dia berusaha tetap tenang. Kalau enggak, pasti saya makin sedih dan panik kalau lihat dia bingung.

Suamiku, Made Bhela
Memang jalannya saya didekatkan dengan Bli Bhela di tahun 2017, bukan sejak tahun 2010 sejak pertama kali mengenal dia di lingkungan kampus. Apanya yang mau didekatkan, kalau mengobrol saja tidak pernah? Sepuluh tahun lalu, dia hanya kakak angkatan di fakultas lain yang saya hanya kenal namanya. Bahkan mungkin kami belum pernah berkenalan langsung. Sampai lulus dan bekerja pun kami masih menjalani kehidupan masing-masing. Lalu di tahun 2017 kami terhubung melalui Instagram, melewati DM putus nyambung, sampai akhirnya berlanjut ke obrolan di Whatsapp, dan tibalah kami di titik ini.

Bersyukur sekali bisa mendapatkan pendamping seperti Made Bhela. Seseorang yang menyayangi dan menerima saya apa adanya, yang aneh dan clumsy ini. Seseorang yang semangatnya meledak-ledak, kalau ngomong kayak ngajak berantem, namun lembut sekali hatinya. Si introvert yang frekuensinya unik namun diterima dengan baik dalam diri saya (mungkin karena kita sama-sama aneh? haha). Seseorang yang kini menjadi kepala rumah tangga dan selalu mengupayakan yang terbaik untuk kami. Teman cerita saya (yang tak jarang bebal, sih) sampai tua nanti. Teman hidup. Semesta saya. My everything.

Saya berkata seperti di atas bukan karena dimabuk cinta, empat tahun sudah cukup lama untuk masa berbunga-bunga. Tapi sungguh saya menyayanginya sepenuh hati, dan rasa ini rasanya semakin bertumbuh seiring makin lama kami bersama.

Made Bhela, banyaaaaak sekali hal-hal yang saya pelajari darimu. Terima kasih karena telah menjadi dirimu apa adanya dalam hubungan kita. Terima kasih untuk semuanya. I love you beyond words.

Resolusi 2022?
Sejujurnya sejak kejadian di akhir tahun lalu, saya berharap saya bisa jadi orang yang lebih fokus dalam segala hal. Dari hal remeh sampai kerjaan serius. Dan mau menjadi orang yang nggak gampang panik karena it’s killing me slowly. Lebih optimis. Lebih produktif.

Kurang lebih begitulah apa yang dialami di tahun 2021. Semoga di tahun 2022 ini kita semua sehat walafiat dan tetap waras, ya!


we want to be felt with rather than dealt with.

pagi ini saya merasa enggan bangun dari kasur. bukan karena malas bekerja, tapi merasa sedih atas apa yang terjadi belakangan ini.

dua puluh sembilan tahun hidup bukan berarti mudah menjadi tenang dan dewasa sepenuhnya. kalau sudah ketemu rasa kecewa, gemanya masih terasa sampai ulu hati. tidak mudah memang.

jadi kali ini, saya membiarkan diri saya meringkuk lebih lama di kasur, sesekali bulir air mata mengalir. tak apa, saya tak mau melawan perasaan saya sendiri. kemudian saya hubungi beberapa orang terdekat sekedar untuk bisa melampiaskan apa yang saya rasakan.

beberapa saat kemudian, saya merasa lebih lega. memang benar baiknya kita resapi apapun perasaan dan permasalahan kita, tidak hanya sebatas mencari cara untuk menyelesaikannya. memaksa untuk merasa baik-baik saja padahal kita sedang tidak baik-baik saja.

sejalan dengan buku yang sedang saya baca, The Book You Wish Your Parents Had Read; when we feel bad, we don’t need to be fixed. we want to be felt with rather than dealt with.

Tertinggalkan Waktu

malam ini saya terbangun lagi. entah apa yang terjadi dengan siklus tidur saya belakangan ini, tidur kok jadi nggak nyenyak.

kebiasaan saya ketika saya nggak bisa tidur adalah mendengarkan lagu, dengan harapan pikiran saya bisa teralihkan, lebih rileks, dan jadi tertidur. maka kali ini saya putuskan untuk mendengarkan album Taman Langit oleh Noah.

hampir seluruh isi album saya dengarkan namun mata juga tak kunjung terpejam. sampai Spotify memainkan lagu Tertinggalkan Waktu, saya resapi liriknya dan merasa tersentil. kok rasanya mengena ya sama apa yang saya rasakan belakangan ini.

Kau terbangun dari tidur panjang
Yang lelahkanmu
Sesali wajahmu merenta
Kisahmu terlupa

Kau sadari semua yang berjalan
Telah tinggalkanmu
Dan tak dapat merangkai semua
Dekati khayalmu

Kau harapkan keajaiban datang
Hadir di pundakmu
Kau harapkan keajaiban
Melengkapi khayalmu

Kau biarkan mimpi tetap mimpi
Yang melengkapi khayalmu
Kau terhenyak dan terbangunkan
Kuharapkan keajaiban datang
Hadir di pundakmu

Kau mencari letak masa lalu
Yang lepaskanmu
Sesali wajahmu merenta
Kisahmu terlupa

Ya Tuhan, mungkin memang benar, aku terlalu berharap pada keajaiban. Terlalu takut dimakan waktu, padahal rasanya banyak yang belum tercapai.

Ah, siapalah aku yang hanya bisa mengeluhkan waktu.