dua arah

fajar jauh dari menjelang, namun kita sudah berada di batas kota. entah untuk yang keberapa kalinya, pertemuan dan perpisahan ini terjadi begitu saja.

ada satu pertanyaan yang tidak pernah kita bisa jawab dalam dinginnya pagi; apakah ini akan menjadi perpisahan yang terakhir sebelum kita benar-benar berjalan ke arah yang berbeda. pertanyaan yang jawabannya selalu di awang-awang, terhanyut oleh nyanyian Tuhan di kejauhan.

kita tidak pernah tahu kapan kita akan kembali.

___

namun pagi itu, tidak ada pertanyaan yang tersisa. hanya keheningan dalam gelap yang menjelaskan semuanya; ini adalah pertemuan dan perpisahan terakhir.

sayup-sayup nyanyian Tuhan mulai mengalun, dan kita akhirnya benar-benar bergerak ke dua arah yang berbeda.

Jakarta, dini hari.

Sayang, hujan lagi.

Sayang, hujan lagi.
Biasanya hujan menjadi pemicu pertengkaran kita kalau sudah ada janji bertemu. Sayang, hujan nih, aku telat ya jemputnya, bakal basah banget di jalan, ucapku. Lalu kamu akan menjawab dengan nada tinggi, Kan sudah tau mendung, kenapa nggak jemput lebih awal? Aku kan sudah bilang dari tadi.
Kemudian kita akan menghabiskan setengah jam berdebat di telepon, sampai hujan akhirnya reda. Seolah-olah semesta mendorong kita bertengkar untuk mengisi waktu menunggu hujan.

Padahal ku yakin nyatanya tidak begitu. Kita terlalu sama-sama keras kepala dan tak mau mengalah. Karenanya aku selalu bersyukur jika hari cerah sampai malam, itu akan mengurangi kesempatan kita untuk bersilat lidah.

Itu dulu.

Sekarang hujan, dan aku kangen berdebat sama kamu melalui telepon. Rasa rinduku jauh mengalahkan rasa kesal saat berantem. Sekarang hujan turun begitu saja, tanpa ada perdebatan yang mengiringi. Aku cuma bisa diam memandangi langit gelap dan bertanya-tanya kamu sedang apa. Apa hujan akan membawamu ke ingatan pertengkaran kita? Kalau iya, kamu akan tersenyum mengenangnya atau bersikap bahwa itu memori yang tidak ingin diingat?

Sayang, katanya kita tidak akan tahu apa yang kita miliki sampai ia benar-benar pergi. Kenapa pula harus aku yang mengalami hal itu lalu terlambat menyadarinya. Aku pikir ego kita adalah masalah terburuk, tapi ternyata tanpamu membuatku lebih terpuruk.

Apakah sekarang sudah ada sosok yang lebih rajin menjemputmu dan tak memperdebatkan hujan?
Ah, sesak sekali membayangkan jika jawabanmu adalah iya.




Sayang, hujannya sudah berhenti, tapi kenapa rinduku padamu masih mengalir deras?

Rasa Tanpa Nama

Ada sebuah rasa yang sulit dijelaskan ketika saya berada di ketinggian, menatap pemandangan yang membentang hingga kejauhan, bertemankan angin semilir dan langit yang mulai menjadi jingga. Sebuah situasi yang selalu membuat saya terhenti dari mengerjakan apapun. Membuat saya terdiam, kehilangan kata-kata, tidak tahu rasa mana yang harus dipeluk: damai, rindu, sendu, atau apa?

Rasa ini membungkam saya sampai dalam, bahkan hati pun ikut terdiam. Detik-detik dimana saya tidak pernah merasa lebih hidup daripada saat ini. Sebuah situasi yang tak akan pernah membuat saya bosan.

Entah mengapa selalu tersisip sedikit rasa kehilangan di saat seperti ini; entah apa yang tak dapat saya temukan. Di satu sisi, damai rasanya masih menyelimuti, dan semua baik-baik saja. Sungguh rasa ini sulit untuk diutarakan dengan pasti, terlalu kompleks untuk dijelaskan.

Lalu kenangan yang abstrak muncul bagai kilatan cahaya. Berganti warna setiap detik, pelan-pelan merambat ke ingatan. Dan masih, saya terdiam, tidak tahu apa yang harus diucapkan.

Mungkin memang tidak semua rasa harus diterjemahkan.

Yang jelas, untuk mencapai titik ini tidak mudah. Banyak yang sudah dilalui, membentang layaknya pemandangan di hadapan saya. Tidak semua bisa tampak dalam satu titik, namun mereka ada, jauh di sudut sana.

Semoga hari-hari seperti ini akan selalu ada. Sekarang, dan hingga nanti.

3×4

kaki kita bersilangan di atas dipan kayu yang dingin. tanpa dendam sedikitpun kepada langit yang bocor dan membasahi kasur busa.

dengan aku yang mencoba meraba teks proklamasi ketika tengah membaca buku puisi. dan kamu yang bertanya-tanya dengan bahagia: untuk apa pegawai macam kita ikut sertifikasi?

katamu, senang punya istri yang suka menulis. aku hanya mencibir karena sungguh pasti aku bukan orang pertama yang kamu beri gombal puisi.

tawa kita pun meluluhkan dinginnya suhu ruangan.

memang, hati kita bahagia tanpa berusaha terlalu banyak. dalam ruangan sempit dan banyak cela ini, cinta kita tumbuh melalui kata-kata,

tersambung dalam kalimat yang tak lekang oleh waktu.

yang abadi

di sudut yang tak terabadikan cahaya
ada rekam jejakmu, aku,
yang tak terulang kembali

di sudut kota tua tempat kita bertukar kata,
ada tawa yang masih bergema,
menghapus rindu yang terlampau pilu

kamu, aku,
abadi, hanya dalam memori

mendulang doa

seminggu berselang sejak saya membahagiakan kabar baik kepada yang terkasih dan yang terdekat, tak lupa kepada yang saya hargai dalam kehidupan yang penuh wara-wiri ini. lalu saya bertanya-tanya kepada diri sendiri, apa esensi dari berbagi berita baik selama ini?

jikalah hanya untuk mencari eksistensi, rasanya tidak tepat. lalu saya sampai pada jawaban bahwa nyatanya saya sedang mendulang doa; dari mereka yang saya percaya akan mengirimkan doa terbaik.

doa yang saya minta secara personal, agar semua niat-niat baik dilancarkan. sekaligus pemberitahuan kabar baik sebagai bentuk silaturahmi. dan benarlah, doa-doa tulus ini yang membuat saya merasa bahagia dan merasa yakin untuk selalu melangkah maju.

terimakasih untuk semua doa-doa baiknya. semoga doa yang sama baiknya juga selalu dilayangkan kepada kalian.

Tentang Hati yang Terluka

Bun, semoga hangatnya mentari masih terasa saat kamu membaca surat ini, Bun. Ini adalah surat tentang hati yang terluka, yang kisahnya abadi dalam masa.

Bun,
perpisahan yang tidak diinginkan adalah hal yang paling menyakitkan. Ternyata tidak semua keinginan kita bisa tercapai. Hidup sungguh tak mudah ditebak. Sama dengan hati yang tak bisa dipaksa untuk memilih siapa yang kita mau.

Bun..
Sungguh beberapa tahun terakhir ini, aku baru menyadari satu hal. Hati manusia tak akan pernah dapat ditebak isinya. Dan cobalah tanya ke dunia, berapa hati yang sejatinya menyisakan ruang kecil untuk masa lalu? Aku rasa banyak, bun. Barulah aku paham, bahwa masa lalu akan selalu menjadi satu kotak hitam yang mengisi di ruang hati seseorang. Terlepas dari kebahagiaan besar yang sedang ia rasakan, tapi ada satu sudut di relung hatinya yang tak mampu tersentuh oleh rasa bahagia itu.

Bun,
ternyata hubungan antarmanusia adalah sesuatu yang kompleks. Cinta kita kepada seseorang mungkin saja akhirnya tak pernah utuh; ada satu celah yang sulit untuk ditutupi dengan apapun. Ada sejumlah orang yang selalu muncul dalam ingatan, yang bisa kita ingat setiap detailnya; yang menjelma dalam bentuk memori. Mereka yang tak bisa kembali, namun nyatanya selalu terpatri. Walau aku masih belum percaya mengenai rasa yang bertahan selamanya tanpa memiliki, namun aku bisa yakin satu hal: selamanya, kita akan memandang orang itu dengan cara yang berbeda.

Bun,
perpisahan pada akhirnya tak pernah mudah, jika kita benar-benar melibatkan rasa. Percayalah mereka yang pernah mampir di kehidupan kita adalah pelajaran, dan akan selalu menjadi bagian di cerita bahagia kita, suatu hari nanti.

Bun..
semoga mendung kan pergi dan pelangi segera menjelang.

Pelukku untukmu.

Teruntuk Mama Gema,

Set,
sesaat sebelum aku menulis ini, jatuh hujan setitik di luar. Aku berharap hujan tidak mengguyur Bekasi dan membuatmu risau, sama seperti ketika kamu memikirkan kemungkinan biawak menyinggahi rumahmu.

Set,
tahun 2020 dan 2021 adalah tahun yang menguji mental dan kewarasan. Kalah pegal linu akibat mengepel rumahmu dengan apa yang mampir di pikiranmu. Sialnya, kita hidup selalu berhubungan dengan orang lain sehingga tak bisa kesana kemari seenak hati. Dan tambah sialnya lagi, kalaulah orang-orang itu adalah penyebab murka dan segala buntut masalah kehidupan.

Begitulah, mungkin apa yang Squidward pikirkan, Set. Itulah mengapa ia membenci SpongeBob dan Patrick. Tapi kita mungkin, masih bisa menyelamatkan diri dari godaan untuk menjadi Squidward. Mungkin kita bisa mencoba mengambil peran sebagai Sandy, barangkali? (Anggap saja ia sosok paling bijak di Bikini Bottom)

Tidak perlu dipertegas lagi segala titik-titik masalah yang muncul, mengingatnya saja sudah bikin pusing kepala. Dan aku percaya, kamu adalah sosok tangguh untuk menghadapi itu semua. Menangis bukan berarti kalah, ataupun salah. Marilah kita ekspresikan rasa dalam hati sebelum semua terpenjara dan membuat kita membenci diri sendiri.

Oh ya Set,
apakah kamu sadar, bahwa kamu adalah orang yang berperan penting dalam perjalanan karirku?

Kembali di tahun 2014 saat aku sedang semangat-semangatnya mencari kerja. Kalau tidak bertanya ke kamu, mungkin aku takkan pernah bekerja di perusahaan yang sama denganmu. Apa yang kamu lakukan sangat sederhana, Set. Hanya memberi alamat kemana surat lamaran ini harus kutuju, dan voila! Tiga bulan setelahnya aku resmi bekerja di kantor yang sama denganmu. Tanpa alamat darimu, aku juga tidak tahu kiranya saat itu akan seperti apa.

Tidak hanya sampai di situ, justru kamar kosmu-lah yang menjadi zona nyaman pertama di Jakarta. Terimakasih karena telah berbaik hati mau berbagi kasur, menceritakan apa yang kamu lalui di kantor, berkenalan dengan teman-teman angkatanmu, sampai akhirnya kamu bertugas di tempat yang baru. Sungguh itu adalah anugerah bagiku, seorang pendatang baru di Jakarta.

Kemudian kita berjumpa lagi di Surabaya. Kembali lagi kamu menemaniku di kota yang puanasnya luar biasa itu. Sampai akhirnya aku yang meninggalkan Surabaya dengan segala memori menyenangkan itu. Terimakasih sudah menjadi mentorku di awal berkarir, Set. Terlihat effortless, tapi sangat berarti bagiku.

Menurutku, kamu adalah orang yang berprinsip teguh. Rajin. Jangan lupakan masa-masa ketika kamu menjadi sekretaris di kelas. Selama bertugas (terdengar terhormat sekali kan), etos kerja dan komitmenmu patut ditiru. Maafkanlah partner kerjamu yang malas dan sembrono ini ya..

Satu lagi, kamu adalah sosok yang terlihat pendiam padahal, jikalau saja sudah satu aliran, lautan informasi dalam otakmu akan kamu tumpahkan dengan mudah.

Set, tampaknya suratku sudah meracau ke mana-mana. Tapi sebelum akhirnya kututup, aku ingin menyampaikan beberapa hal.

Kamu sudah melakukan yang terbaik. Peran sebagai istri dan ibu sudah dilakoni dengan maksimal. Tidak ada yang sempurna, akan ada kurang di sana sini. Manusia bisa berkomentar miring karena tidak merasakan, tapi kamu yang paling tahu apa yang kamu lakukan.

Bersemangatlah, dan pompa udara ceria itu ke dalam ronggamu. Kalaulah orang-orang di sekitarmu sudah semakin gila, janganlah ikut menjadi gila, kalau tidak kita sama gilanya dengan mereka (padahal kalimatku terdengar gila).

Omong-omong,
aku rindu baca tulisan di blogmu. Apakah kamu tidak rindu meluapkan rasa di sana? Jikalau saja perlu diingatkan, tulisanmu bagus, Set. Mungkin saja kamu bisa menuangkan segala rasa yang kamu lalui belakangan ini, tentunya jika Gema sedang tidak meraung-raung.

Telingaku, telinga kami, akan selalu siap mendengar jeritan dari dalam hati. Semangat, Set!

Untuk Anak Kicikku,

Nak kicik, lama sekali kita tidak ngobrol dan tertawa di sela-sela kerja. Semoga surat ini bisa jadi pengingat masa-masa curhat kita di Inspira atau di ujung mejamu.

Nak kicik, kamu adalah salah satu sosok rendah hati yang pernah aku temui. Tidak usahlah aku jelaskan latar belakangnya, namun kamu selalu nampak sederhana dan simpel. Tidak pamer apapun, kecuali momen. Mungkin saja kamu menyimpan berlian di bawah bantalmu dan tidak ada satupun yang tahu. Mungkin ya, jadi apa kita harus aminkan?

Di masa-masa kita masih di PPM, kamu adalah manusia yang juga ‘terjebak’ pagi-pagi di ruang kelas karena hanya ada dua pilihan waktu itu: berangkat pagi sekali atau terlambat. Untung saja ada kamu karena kalau tidak mungkin saja aku memilih untuk menatap layar handphone-ku sampai ada kawan-kawan yang datang lebih banyak.

Nak kicik, usiamu yang seperti adikku kadang menjadikanku merasa tua, tapi nyatanya aku tetap bisa berperilaku gila di dekatmu. Terimakasih nak kicik sudah jadi sosok humoris nan baik hati, yang kalau kerja fokus sekali meskipun ada manusia-manusia penggoda yang hobinya tertawa saat kerja (termasuk aku sih ya). Semangat kerjamu datang pagi pulang kalau bisa on time adalah hal yang patut ditiru; hei siapa sih yang menormalisasi kerja lembur di kantor jika tidak berujung jadi jutawan?

Nak kicik, berbesar hati dan memaafkan adalah sikap mulia yang mungkin sulit untuk dilakukan. Jadi bersyukurlah karena sudah mampu melakukan hal itu, dan semogalah sikap ini mampu kamu pertahankan ya nak kicik. Nyatanya bersikap baik akan mendekatkan kamu dengan yang baik, bukan begitu?

Nak kicik, semogalah kamu tidak bingung membaca suratku ini. Kalau bingung tinggal tertawa saja, niscaya paham isi suratnya. Jaga kesehatan dan tulang punggung, semoga ada waktunya kita bisa bercerita kembali ya.

Salam, dari bundamu yang entah keberapa.